Valuta

Rupiah Berpotensi Melemah ke Level Rp 18.000 per Dolar AS

53
×

Rupiah Berpotensi Melemah ke Level Rp 18.000 per Dolar AS

Sebarkan artikel ini
Grafik pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang fluktuatif di pasar keuangan
Nilai tukar rupiah diproyeksikan berada dalam tekanan hingga berpotensi menembus level Rp 18.000 per dolar AS.

JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diproyeksikan terus berada dalam tekanan hingga akhir 2026. Mata uang Garuda berpotensi menembus level psikologis Rp 18.000 per dolar AS dalam beberapa pekan mendatang.

Pada penutupan perdagangan Jumat (25/9/2026), rupiah spot memang sempat menguat tipis 0,07% ke level Rp 17.902 per dolar AS. Namun, secara mingguan, mata uang domestik ini tercatat melemah 0,82% dibandingkan posisi Rp 17.758 pada 18 September 2026.

Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menilai kondisi rupiah saat ini sangat fluktuatif. Tekanan pelemahan yang terjadi dipicu oleh kombinasi sentimen global yang kuat.

Faktor utama yang menekan rupiah adalah tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun yang berada di kisaran 5,16%. Selain itu, ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed turut mempersempit daya tarik aset rupiah bagi investor.

Sebanyak 16 dari 18 pejabat bank sentral AS diyakini masih mendukung setidaknya satu kenaikan suku bunga lagi sebelum tahun 2026 berakhir. Kondisi ini berpotensi mendorong suku bunga acuan AS ke level 4,25%.

Ketidakpastian harga minyak dunia juga menjadi ancaman nyata bagi stabilitas fiskal dan nilai tukar nasional. Saat ini, harga minyak Brent masih bertahan di atas US$ 105 per barel, yang telah melonjak sekitar 72% sejak awal tahun.

Tingginya harga energi meningkatkan beban impor dan tekanan subsidi dalam APBN. Hal ini berisiko memperlebar defisit transaksi berjalan sekaligus menambah beban kebutuhan pembiayaan pemerintah.

Di sisi domestik, sensitivitas arus modal asing terhadap kondisi global semakin meningkat. Investor global terpantau mulai melakukan aksi jual bersih obligasi Indonesia sebesar US$ 110 juta pada 22 September lalu.

Meski demikian, Bank Indonesia dinilai masih memiliki kapasitas untuk melakukan stabilisasi pasar. Otoritas moneter memiliki cadangan devisa sebesar US$ 146,5 miliar yang setara dengan 5,4 bulan impor.

Intervensi valuta asing dan pengelolaan instrumen moneter tetap menjadi instrumen utama untuk meredam volatilitas. Bahkan, penyesuaian suku bunga BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 6,00% pada kuartal IV 2026 disiapkan sebagai langkah mitigasi jika rupiah bertahan di atas Rp 18.000.

Josua menegaskan bahwa level Rp 18.000 sebaiknya dipandang sebagai batas tekanan yang perlu diwaspadai, bukan angka keseimbangan baru. Stabilitas rupiah ke depan sangat bergantung pada dinamika harga minyak dan arah kebijakan moneter Amerika Serikat.

Kemampuan Indonesia dalam menjaga kepercayaan terhadap ketahanan fiskal akan menjadi penentu utama. Jika sentimen negatif dari pasar global terus berlanjut, volatilitas rupiah diprediksi tetap tinggi hingga akhir tahun.