Valuta

Rupiah Melemah ke Rp17.894, Sentimen Eksternal Tekan Nilai Tukar Hari Ini

93
×

Rupiah Melemah ke Rp17.894, Sentimen Eksternal Tekan Nilai Tukar Hari Ini

Sebarkan artikel ini
Tampilan layar monitor yang menunjukkan grafik pergerakan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS
Nilai tukar rupiah melemah ke level Rp17.894 per dolar AS pada perdagangan Kamis, 24 September 2026.

JAKARTA – Nilai tukar rupiah di pasar spot mencatatkan pelemahan pada perdagangan Kamis (24/9/2026). Mata uang Garuda berada di level Rp 17.894 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan tengah hari ini.

Pelemahan ini terjadi di tengah tekanan eksternal yang signifikan terhadap mata uang regional. Kondisi ini membuat pergerakan rupiah menjadi semakin volatil sepanjang pekan ini.

Analis pasar keuangan menyatakan bahwa pelemahan rupiah saat ini bukan dipicu oleh kebijakan moneter domestik. Keputusan Bank Indonesia (BI) untuk mempertahankan suku bunga acuan dinilai sudah sesuai dengan ekspektasi pelaku pasar.

Faktor utama yang menekan rupiah adalah penguatan indeks dolar AS (DXY) secara global. Selain itu, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS turut memperburuk sentimen negatif bagi mata uang negara berkembang.

Harga minyak dunia yang masih bertahan di level tinggi juga menjadi beban tambahan bagi stabilitas nilai tukar. Ketidakpastian geopolitik global semakin memperkuat kecenderungan investor untuk memegang aset dalam denominasi dolar AS.

Level Rp 18.000 per dolar AS kini dipandang sebagai resistance psikologis yang cukup kuat bagi mata uang domestik. Jangka pendek, rupiah diperkirakan akan terus bergerak dalam rentang Rp 17.750 hingga Rp 18.000.

Potensi pengujian level Rp 18.000 tetap terbuka lebar jika tekanan dari yield obligasi AS dan harga minyak terus meningkat. Sebaliknya, rupiah berpeluang menguat ke bawah level Rp 17.800 apabila tekanan global mereda.

Bank Indonesia saat ini telah menyiapkan langkah-langkah mitigasi untuk menjaga stabilitas pasar. Intervensi langsung di pasar spot menjadi opsi utama dengan melakukan penjualan dolar AS dan pembelian rupiah.

Selain intervensi spot, otoritas moneter juga mengoptimalkan instrumen Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik. Langkah serupa melalui Non-Deliverable Forward (NDF) juga dilakukan di pasar offshore.

Instrumen moneter lainnya seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN) turut digunakan. Langkah ini bertujuan untuk menjaga daya tarik aset rupiah bagi investor asing.

Optimasi instrumen tersebut diharapkan mampu menahan laju pelemahan yang lebih dalam. BI menegaskan komitmennya untuk terus memantau perkembangan pasar guna meminimalisir volatilitas yang berlebihan.

Tantangan bagi rupiah diprediksi masih akan berlanjut dalam beberapa waktu ke depan. Sinyal kebijakan hawkish dari bank sentral AS, The Fed, menjadi variabel penentu utama di pasar keuangan global.

Pelaku pasar kini menantikan respons kebijakan lanjutan dari otoritas moneter Indonesia. Stabilitas nilai tukar menjadi fokus utama di tengah dinamika ekonomi global yang penuh ketidakpastian.