JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali tertekan pada perdagangan Jumat (11/9/2026). Berdasarkan data Reuters pukul 02.04 GMT, mata uang Garuda berada di level Rp17.580 per dolar AS, mencatatkan pelemahan sebesar 0,28% dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di Rp17.530.
Pelemahan rupiah ini terjadi di tengah sentimen penguatan dolar AS yang memengaruhi sejumlah mata uang di kawasan Asia. Selain rupiah, mata uang regional lainnya seperti ringgit Malaysia dan dolar Taiwan juga menunjukkan tren serupa di pasar keuangan global.
Ringgit Malaysia terpantau turun 0,22% menjadi 4,070 per dolar AS, dari posisi sebelumnya di 4,061. Sementara itu, dolar Taiwan melemah 0,24% ke level 31,625 per dolar AS dibandingkan posisi 31,548 pada perdagangan sebelumnya.
Tekanan juga dirasakan oleh peso Filipina yang melemah 0,19% menjadi 62,707 per dolar AS. Baht Thailand turut mengikuti tren negatif dengan penurunan sebesar 0,08% ke level 33,135 per dolar AS.
Di sisi lain, tidak semua mata uang Asia berada dalam zona merah. Won Korea Selatan justru berhasil menguat 0,13% ke level 1.347,67 per dolar AS. Yen Jepang juga mencatatkan kenaikan tipis sebesar 0,03% menjadi 154,37 per dolar AS.
Sementara itu, dolar Singapura cenderung stabil di angka 1,268 per dolar AS. Yuan China juga terpantau hampir tidak mengalami perubahan berarti, bertahan di level 6,712 per dolar AS selama sesi perdagangan berlangsung.
Secara kumulatif, pelemahan hari ini menambah tekanan terhadap kinerja rupiah sepanjang tahun berjalan 2026. Sejak akhir 2025, rupiah tercatat telah terdepresiasi sekitar 5,18% terhadap dolar AS.
Pada penghujung 2025, posisi rupiah berada di angka Rp16.670 per dolar AS. Dengan posisi di Rp17.580 pada hari ini, volatilitas mata uang Indonesia menunjukkan tantangan ekonomi yang cukup signifikan di tengah dinamika pasar global.
Jika dibandingkan dengan mata uang regional lainnya, kinerja rupiah masih lebih stabil dibandingkan peso Filipina yang merosot 6,23% sepanjang 2026. Rupiah juga mencatat pelemahan yang lebih kecil dibandingkan rupee India yang turun 5,84% dan baht Thailand yang melemah 5,09%.
Namun, pencapaian rupiah masih berada di bawah ringgit Malaysia yang hanya terkoreksi 0,34% sejak awal tahun. Won Korea Selatan justru menjadi salah satu mata uang dengan performa paling impresif di Asia dengan penguatan sebesar 6,89%.
Yuan China juga menunjukkan ketahanan yang kuat dengan apresiasi 4,12% terhadap dolar AS sepanjang 2026. Selain itu, yen Jepang dan dolar Singapura masing-masing mencatatkan penguatan sebesar 1,48% dan 1,38% dalam periode yang sama.
Pergerakan nilai tukar yang beragam ini mencerminkan sentimen pasar yang dipengaruhi oleh kondisi ekonomi domestik masing-masing negara. Selain itu, arah kebijakan moneter Amerika Serikat tetap menjadi faktor penentu utama yang memengaruhi fluktuasi dolar AS di pasar valuta asing global.





