Bursa Saham

Wall Street Menguat di Tengah Kenaikan Inflasi AS dan Suku Bunga

25
×

Wall Street Menguat di Tengah Kenaikan Inflasi AS dan Suku Bunga

Sebarkan artikel ini
Papan layar elektronik menampilkan grafik pergerakan indeks saham Wall Street di New York
Bursa saham Wall Street dibuka menguat pada perdagangan Jumat di tengah data inflasi AS yang meningkat.

NEW YORK – Bursa saham Amerika Serikat (AS) dibuka menguat pada perdagangan Jumat (11/9/2026), meskipun data terbaru menunjukkan inflasi konsumen kembali mengalami peningkatan pada periode Agustus. Investor saat ini tengah mencermati kebijakan suku bunga Federal Reserve di tengah tekanan kenaikan yield obligasi pemerintah dan harga energi.

Indeks Dow Jones Industrial Average dibuka naik 140,4 poin atau 0,27% ke level 52.204,46. Sementara itu, indeks S&P 500 menguat 45,1 poin atau 0,59% menjadi 7.636,75, dan Nasdaq Composite mencatatkan kenaikan 207,7 poin atau 0,80% ke posisi 26.289,414.

Penguatan pada perdagangan hari ini memberikan harapan bagi Wall Street untuk mengakhiri pekan dengan catatan positif. Sebelumnya, pasar saham AS sempat mengalami tekanan berat akibat kekhawatiran inflasi yang berkepanjangan.

Data dari Bureau of Labor Statistics menunjukkan indeks harga konsumen (CPI) AS naik 0,4% secara bulanan pada Agustus. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan kenaikan 0,1% yang tercatat pada Juli.

Secara tahunan, inflasi konsumen berada di level 3,4%, tidak mengalami perubahan dari capaian bulan sebelumnya. Analis menilai data ini mencerminkan inflasi yang masih sulit ditaklukkan dan belum memberikan kepastian arah bagi investor.

Kondisi pasar tetap rapuh di tengah perubahan ekspektasi suku bunga yang dinamis. Selain itu, investor juga dihadapkan pada tantangan geopolitik di Timur Tengah serta tren kenaikan imbal hasil US Treasury.

Pakar ekonomi menekankan pentingnya respons tegas dari Federal Reserve untuk menekan inflasi. Langkah ini dipandang krusial guna menghindari risiko berulangnya lonjakan inflasi tinggi seperti yang pernah terjadi pada era 1970-an.

Sebelum perdagangan Jumat dimulai, S&P 500 sempat berada di jalur penurunan mingguan terbesar sejak Juni. Dow Jones juga tercatat berpotensi membukukan pelemahan mingguan terdalam sejak Maret.

Namun, beberapa ahli melihat sejarah pasar saham masih memberikan sinyal optimisme. Data sejak 1950 menunjukkan bahwa ketika S&P 500 mencatatkan kenaikan di atas 10% hingga akhir Agustus, indeks tersebut cenderung kembali menguat pada kuartal terakhir tahun tersebut.

Risiko dari sektor energi tetap menjadi perhatian utama bagi pelaku pasar. Kontrak berjangka minyak Brent terpantau melemah, namun masih bertahan di atas level US$104 per barel.

Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) juga berada di kisaran US$100 per barel. Kenaikan harga diesel nasional AS yang mencapai rekor di atas US$6 per galon turut memperumit kalkulasi kebijakan suku bunga The Fed.

Di level korporasi, saham Oracle melonjak hampir 7% setelah laporan kinerja keuangan melampaui ekspektasi pasar. Kenaikan ini didorong oleh keyakinan investor terhadap efektivitas investasi perusahaan di bidang kecerdasan buatan.

Sebaliknya, saham Adobe terkoreksi lebih dari 3% karena proyeksi pendapatan kuartal IV yang mengecewakan. Sementara itu, saham ACV Auctions melonjak 45% pasca kesepakatan akuisisi oleh Copart senilai US$1,9 miliar.