Valuta

Rupiah Menguat ke Rp17.882 per Dolar AS di Akhir Pekan

32
×

Rupiah Menguat ke Rp17.882 per Dolar AS di Akhir Pekan

Sebarkan artikel ini
Grafik pergerakan nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat di pasar uang
Nilai tukar rupiah ditutup menguat ke level Rp17.882 per dolar AS pada perdagangan akhir pekan, Jumat (2/10/2026).

JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat pada perdagangan akhir pekan, Jumat (2/10/2026). Rupiah spot berakhir di level Rp 17.882 per dolar AS, mencatatkan apresiasi sebesar 0,47% dibandingkan penutupan hari sebelumnya.

Secara akumulatif dalam sepekan terakhir, mata uang Garuda berhasil menguat sebesar 0,12%. Data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) juga mengonfirmasi tren serupa dengan penguatan 0,22% ke level Rp 17.898 per dolar AS pada hari yang sama.

Kendati mencatatkan penguatan di penghujung pekan, para analis menilai tren tersebut belum mampu membalikkan tekanan fundamental yang ada. Rupiah masih dibayangi oleh sentimen negatif dari pasar global yang cukup dominan.

Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyebutkan bahwa penguatan ini bersifat terbatas. Tekanan dari kenaikan imbal hasil (yield) US Treasury dan penguatan indeks dolar AS masih menjadi beban utama.

Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun tercatat melonjak hingga menyentuh level 5,3% pada Kamis (1/10/2026). Angka tersebut merupakan posisi tertinggi yang pernah dicapai sejak tahun 2002 silam.

Lonjakan yield obligasi AS dipicu oleh beberapa faktor krusial. Di antaranya adalah tingkat inflasi yang masih membandel, volume penerbitan obligasi pemerintah AS yang masif, serta peningkatan investasi pada sektor kecerdasan buatan (AI).

Di sisi lain, kebijakan moneter agresif dari bank sentral AS, The Fed, turut memperkeruh situasi. Meskipun suku bunga acuan telah dinaikkan ke kisaran 3,75%-4% pada FOMC September, pasar masih mengantisipasi adanya kenaikan lanjutan.

Ekspektasi kenaikan suku bunga yang terus berlanjut memicu arus keluar modal asing (capital outflow) dari pasar negara berkembang. Fenomena ini memberikan tekanan jual yang signifikan terhadap mata uang regional, termasuk rupiah.

Selain faktor moneter, ketegangan geopolitik di Timur Tengah turut menjaga harga minyak dunia tetap tinggi. Kenaikan harga energi ini menjadi ancaman nyata bagi stabilitas nilai tukar domestik Indonesia.

Terkait prospek jangka pendek, pasar diprediksi akan mengalami pergerakan fluktuatif pada pekan depan. Absennya rilis data ekonomi penting di pekan mendatang membuat pergerakan mata uang lebih rentan terhadap sentimen eksternal.

Investor saat ini disarankan untuk terus memantau perkembangan eskalasi konflik di Timur Tengah. Jika harga minyak dunia kembali melonjak, tekanan terhadap rupiah diperkirakan akan semakin menguat.

Selain itu, pergerakan yield obligasi AS tetap menjadi indikator utama yang dicermati pelaku pasar. Jika yield kembali mencatatkan kenaikan, ruang gerak rupiah akan semakin terbatas di tengah pasar yang masih mencari keseimbangan baru.

Untuk perdagangan sepekan ke depan, rupiah diproyeksikan akan bergerak di rentang Rp 17.750 hingga Rp 18.100 per dolar AS. Kecenderungan pelemahan dinilai masih mungkin terjadi apabila sentimen eksternal tidak menunjukkan perbaikan.