JAKARTA – Nilai tukar rupiah menunjukkan penguatan pada perdagangan Rabu (30/9/2026), meski bayang-bayang level psikologis Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) masih membayangi pasar keuangan domestik. Mata uang Garuda mencatatkan apresiasi sebesar 0,48% ke level Rp 17.894 per dolar AS di pasar spot.
Data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia turut mengonfirmasi penguatan tersebut dengan posisi di level Rp 17.877 per dolar AS. Angka ini membaik dibandingkan posisi hari sebelumnya yang berada di level Rp 17.998 per dolar AS.
Meskipun menguat, para analis tetap mewaspadai volatilitas jangka pendek. Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, memproyeksikan rupiah akan terus menguji rentang Rp 17.900 hingga Rp 18.100 per dolar AS.
Yusuf menilai bahwa menyentuhnya level Rp 18.000 bukanlah tanda pelemahan yang tidak terkendali. Kondisi tersebut lebih mencerminkan fluktuasi wajar di sekitar batas psikologis pasar.
Tekanan utama terhadap rupiah saat ini masih didominasi oleh faktor eksternal. Kenaikan suku bunga The Fed serta tingginya imbal hasil obligasi AS terus membuat aset berbasis dolar AS lebih menarik bagi investor global.
Selain itu, kenaikan harga minyak mentah dunia memberikan beban tambahan bagi rupiah. Kondisi ini meningkatkan permintaan valuta asing dari para importir guna memenuhi kebutuhan energi nasional.
Permintaan dolar AS juga cenderung melonjak menjelang penutupan kuartal III 2026. Hal ini memicu kebutuhan likuiditas dolar yang lebih tinggi di pasar domestik dibandingkan hari-hari biasanya.
Bank Indonesia terpantau tetap aktif menjaga stabilitas pasar. Otoritas moneter melakukan intervensi melalui pasar spot, Non-Deliverable Forwards (NDF), dan Domestic Non-Deliverable Forwards (DNDF).
Langkah tersebut terbukti mampu membatasi tekanan terhadap mata uang nasional. Selain itu, Indonesia memiliki bantalan berupa kenaikan BI-Rate secara kumulatif sebesar 100 basis poin menjadi 5,75% pada September.
Posisi cadangan devisa yang mencapai US$ 146,5 miliar juga menjadi penyangga kuat bagi stabilitas rupiah. Peluang penguatan ke kisaran Rp 17.700 hingga Rp 17.800 per dolar AS tetap terbuka jika tekanan suku bunga AS mereda.
Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA), David Sumual, sependapat bahwa rupiah akan bergerak di rentang Rp 17.800 hingga Rp 18.100 dalam jangka pendek. Ia menyoroti indeks dolar AS yang terus menguat akibat kebijakan hawkish bank sentral negara maju.
David menambahkan bahwa Bank Indonesia telah menyesuaikan instrumen kebijakan untuk meredam volatilitas. Salah satunya adalah dengan meningkatkan diskon lindung nilai (hedging) dan mengurangi porsi intervensi di pasar spot.
Strategi ini bertujuan untuk menjaga ketahanan cadangan devisa nasional dari guncangan global. Kebijakan suku bunga yang ketat tetap menjadi opsi untuk merespons kondisi geopolitik yang masih belum stabil.
Di sisi lain, pergerakan rupiah yang mendekati level Rp 18.000 menjadi perhatian dalam penyusunan APBN 2027. Pemerintah menetapkan asumsi nilai tukar di angka Rp 17.500 per dolar AS.
Meskipun dinilai optimistis, selisih antara asumsi tersebut dengan kondisi pasar saat ini masih dianggap berada dalam batas yang dapat dikelola. Pemerintah masih memiliki ruang untuk melakukan efisiensi belanja dan penyesuaian strategi pembiayaan jika diperlukan.






