Energi

Geo Dipa Targetkan 1 GW PLTP dengan Investasi Rp102 Triliun

31
×

Geo Dipa Targetkan 1 GW PLTP dengan Investasi Rp102 Triliun

Sebarkan artikel ini
Direktur Utama PT Geo Dipa Energi, Yudistian Yunis, saat memberikan keterangan terkait target pengembangan PLTP
Direktur Utama PT Geo Dipa Energi, Yudistian Yunis, memaparkan rencana pengembangan kapasitas PLTP hingga 1 GW.

BOGOR – PT Geo Dipa Energi (Persero) menetapkan target ambisius untuk menambah kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) hingga hampir 1 gigawatt (GW) dalam satu dekade ke depan. Proyeksi ekspansi ini diperkirakan membutuhkan dukungan investasi mencapai US$ 5,75 miliar atau setara dengan Rp 102,9 triliun.

Direktur Utama PT Geo Dipa Energi, Yudistian Yunis, menyatakan bahwa target tersebut merupakan bagian dari skenario pengembangan bisnis perusahaan secara berkelanjutan. Jika skenario ini berjalan lancar, perusahaan BUMN di bawah Kementerian Keuangan tersebut akan mampu membangun kapasitas sebesar 965 megawatt (MW) dalam sepuluh tahun.

Estimasi kebutuhan investasi tersebut mengalami peningkatan dari proyeksi awal yang sebesar US$ 5,3 miliar. Penambahan nilai sekitar US$ 400 juta tersebut muncul seiring dengan rencana pemerintah untuk mengoptimalkan 14 lokasi eksplorasi baru di Indonesia.

Sebanyak 14 lokasi eksplorasi baru tersebut diketahui menyimpan potensi energi sebesar 732 MW. Pemerintah menilai penambahan wilayah kerja ini merupakan langkah strategis untuk mempercepat pemanfaatan potensi panas bumi nasional yang saat ini masih minim penggarapan.

Indonesia tercatat memiliki potensi panas bumi mencapai 24 GW, namun kapasitas yang baru terpasang saat ini baru menyentuh angka 2,7 GW atau sekitar 11%. Rendahnya realisasi ini secara historis disebabkan oleh tingginya biaya investasi dan risiko tinggi dalam fase eksplorasi.

Tantangan utama dalam sektor ini adalah biaya pengeboran yang mencapai US$ 6 juta hingga US$ 8 juta per sumur. Selain itu, setiap proses pengeboran memerlukan waktu sekitar 45 hari dengan kedalaman mencapai 2.000 meter, tanpa jaminan keberhasilan menemukan sumber uap yang layak untuk pembangkit.

Kendati demikian, Yudistian menilai bahwa saat ini biaya pengembangan panas bumi sudah jauh lebih terjangkau dibandingkan masa lalu. Hal ini membuat sektor panas bumi menjadi lebih menarik bagi para pengembang energi terbarukan di Indonesia.

Salah satu fokus pengembangan saat ini adalah lapangan panas bumi Patuha di Jawa Barat. Geo Dipa saat ini mengoperasikan PLTP Patuha dengan kapasitas 55 MW dan tengah merampungkan tambahan kapasitas 55 MW lainnya.

Perusahaan telah memiliki perjanjian jual beli listrik atau Power Purchase Agreement (PPA) dengan PT PLN (Persero) untuk pengembangan Patuha hingga mencapai total 400 MW. Untuk memuluskan target tersebut, Geo Dipa tengah menjalin diskusi pendanaan eksplorasi dengan Asian Development Bank (ADB).

Secara keseluruhan, Geo Dipa telah mengoperasikan pembangkit berkapasitas 120 MW, dengan tambahan 110 MW yang sedang dalam tahap konstruksi. Perusahaan juga tengah menyiapkan proses pengadaan untuk penambahan 110 MW berikutnya.

Pengembangan panas bumi dinilai memiliki prospek cerah karena mampu menghasilkan listrik secara stabil dan konsisten. Berbeda dengan sumber energi terbarukan lainnya, panas bumi tidak bergantung pada fluktuasi cuaca atau musim.

Dengan faktor kapasitas mencapai 95%, PLTP sangat ideal dijadikan sebagai sumber listrik baseload. Karakteristik ini menjadikan panas bumi sebagai tumpuan utama bagi sektor industri yang membutuhkan pasokan energi listrik yang andal dan berkelanjutan.

Deretan server komputer di dalam fasilitas pusat data modern dengan pencahayaan LED biru
Energi

PT PLN mencatat konsumsi listrik 159 pusat data mencapai 2.378 GWh, mencerminkan pesatnya pertumbuhan infrastruktur ekonomi digital dan teknologi kecerdasan buatan di Indonesia.