Valuta

Rupiah Menguat di Akhir Pekan, Begini Proyeksi Tren Pekan Depan

33
×

Rupiah Menguat di Akhir Pekan, Begini Proyeksi Tren Pekan Depan

Sebarkan artikel ini
Grafik pergerakan nilai tukar mata uang Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat di layar monitor
Nilai tukar rupiah menguat tipis terhadap dolar AS pada perdagangan Jumat, 2 Oktober 2026.

JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mencatatkan penguatan tipis pada perdagangan akhir pekan, Jumat (2/10/2026). Kurs rupiah spot ditutup di level Rp 17.882 per dolar AS, atau menguat 0,47% dibandingkan penutupan hari sebelumnya.

Secara akumulatif dalam satu pekan terakhir, mata uang Garuda berhasil menguat sebesar 0,12%. Penguatan serupa juga tercatat pada kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang terapresiasi 0,22% ke posisi Rp 17.898 per dolar AS.

Meski demikian, para analis menilai penguatan ini bersifat sementara dan belum mampu membalikkan tren pelemahan rupiah secara fundamental. Tekanan eksternal yang dipicu oleh kebijakan moneter Amerika Serikat dan ketidakpastian geopolitik global masih menjadi beban utama.

Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyatakan bahwa pergerakan rupiah masih sangat dipengaruhi oleh kenaikan imbal hasil atau yield US Treasury. Selain itu, penguatan dolar AS secara luas dan tingginya harga minyak dunia akibat ketegangan di Timur Tengah terus menekan mata uang kawasan, termasuk rupiah.

Data pasar menunjukkan yield US Treasury tenor 10 tahun sempat melonjak hingga menyentuh level 5,3% pada Kamis (1/10/2026). Angka tersebut merupakan level tertinggi yang tercatat sejak tahun 2002.

Kenaikan imbal hasil ini dipicu oleh inflasi di AS yang masih membandel serta masifnya penerbitan obligasi pemerintah negara tersebut. Selain itu, arus investasi yang terfokus pada sektor kecerdasan buatan (AI) turut mendorong kenaikan yield obligasi acuan AS dari kisaran 4,15% di awal tahun.

Sentimen pasar juga masih dibayangi oleh kebijakan Federal Reserve (The Fed) yang menaikkan suku bunga ke kisaran 3,75%-4% pada pertemuan FOMC September lalu. Ekspektasi akan adanya kenaikan suku bunga lanjutan memicu arus keluar modal asing dari pasar negara berkembang (emerging markets).

Fenomena pelemahan mata uang akibat tekanan dolar AS ini tidak hanya dialami Indonesia. Mata uang regional seperti ringgit Malaysia juga mengalami tekanan serupa, yang mencerminkan respons pasar global terhadap kebijakan moneter AS dan pergerakan yield obligasi.

Untuk perdagangan pekan depan, rupiah diprediksi akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah. Minimnya rilis data ekonomi penting dalam waktu dekat membuat pasar lebih fokus pada perkembangan konflik di Timur Tengah.

Harga minyak dunia akan menjadi indikator krusial yang dicermati investor dalam beberapa hari ke depan. Jika harga komoditas energi tersebut kembali melonjak, tekanan terhadap nilai tukar rupiah berpotensi semakin besar.

Secara teknikal, rupiah diperkirakan akan bergerak dalam rentang Rp 17.750 hingga Rp 18.100 per dolar AS selama sepekan ke depan. Investor disarankan untuk terus memantau pergerakan imbal hasil obligasi AS sebagai acuan utama arah pasar valuta asing.