Valuta

Dolar AS Menguat, Bagaimana Prospek Yen Jepang dan Franc Swiss?

54
×

Dolar AS Menguat, Bagaimana Prospek Yen Jepang dan Franc Swiss?

Sebarkan artikel ini
Grafik pergerakan mata uang dolar AS terhadap yen Jepang dan franc Swiss di layar monitor trading
Mata uang yen Jepang dan franc Swiss tertekan oleh dominasi dolar AS di pasar valas.

JAKARTA – Dominasi dolar Amerika Serikat (AS) terus menekan mata uang safe haven seperti yen Jepang (JPY) dan franc Swiss (CHF) di tengah ekspektasi suku bunga Federal Reserve yang tetap tinggi hingga akhir 2026.

Hingga perdagangan Jumat (2/10/2026) pukul 17.10 WIB, pasangan mata uang USD/JPY berada di level 157,647. Meski melemah tipis 0,28% secara harian, yen masih mencatatkan penguatan 1,16% dalam sepekan terakhir.

Sementara itu, USD/CHF tercatat di level 0,82821. Pasangan ini turun 0,33% secara harian, namun secara mingguan masih menunjukkan penguatan sebesar 2,56%.

Indeks Dolar AS (DXY) sendiri bertahan di level tinggi yakni 101,9. Kondisi ini mencerminkan kekuatan dolar yang didorong oleh data aktivitas ekonomi AS yang solid, sehingga memicu spekulasi pengetatan kebijakan moneter lanjutan oleh The Fed.

Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo, menilai perbedaan suku bunga saat ini menjadi faktor penentu utama pergerakan mata uang. Status safe haven yen dan franc kini kalah dominan dibandingkan selisih imbal hasil yang ditawarkan oleh dolar AS.

The Fed diketahui telah menaikkan suku bunga acuannya ke kisaran 3,75%-4,00% pada 16 September 2026. Kebijakan ini membuat mata uang dengan suku bunga lebih rendah cenderung tertinggal.

Yen Jepang memiliki potensi tertahan pelemahannya melalui katalis domestik. Indeks Harga Konsumen (CPI) Tokyo yang lebih tinggi meningkatkan ekspektasi pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga oleh Bank of Japan (BoJ).

Risiko intervensi pemerintah Jepang juga tetap menjadi perhatian utama pelaku pasar. Langkah ini diprediksi akan kembali diambil jika pasangan USD/JPY mendekati level psikologis 160.

Di sisi lain, franc Swiss menghadapi tantangan dari kebijakan moneter Swiss National Bank (SNB) yang diperkirakan akan mempertahankan suku bunga di level 0%. Hal ini menjadikan franc sebagai mata uang pendanaan yang menarik dalam strategi carry trade.

Namun, potensi risiko fiskal di Eropa dapat mengubah dinamika ini. Pelebaran selisih imbal hasil obligasi antara Prancis dan Jerman berpeluang meningkatkan daya tarik franc Swiss sebagai aset lindung nilai di masa depan.

Pergerakan mata uang hingga akhir 2026 akan sangat bergantung pada rilis data ketenagakerjaan AS, khususnya nonfarm payrolls (NFP). Data yang solid diproyeksikan akan kembali menopang dolar AS dan membatasi ruang gerak mata uang lainnya.

Sutopo memproyeksikan indeks dolar akan bergerak di kisaran 99 hingga 103 hingga akhir tahun. Untuk USD/JPY, rentang pergerakan diprediksi berada di level 155-160, sementara USD/CHF diperkirakan berada di kisaran 0,80-0,85.

Investor disarankan untuk tetap berhati-hati dalam menambah eksposur dolar di dekat level tertinggi tahun ini. Peninjauan kembali posisi portofolio disarankan setelah data ekonomi makro terbaru dirilis.