JAKARTA – Nilai tukar rupiah di pasar spot kembali mencatatkan kinerja negatif pada perdagangan Kamis (8/10/2026). Rupiah ditutup melemah di level Rp 17.915 per dolar Amerika Serikat (AS).
Pelemahan ini mencerminkan depresiasi sebesar 0,16% dibandingkan penutupan perdagangan pada hari sebelumnya. Pada Rabu (7/10/2026), mata uang Garuda berada di posisi Rp 17.887 per dolar AS.
Tekanan yang dialami rupiah selaras dengan tren pelemahan yang melanda mayoritas mata uang di kawasan Asia. Sentimen global masih menjadi faktor utama yang menekan aset-aset berisiko di pasar negara berkembang.
Won Korea Selatan tercatat sebagai mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia hingga pukul 15.00 WIB. Mata uang Negeri Ginseng tersebut anjlok sebesar 0,22% terhadap dolar AS.
Posisi kedua ditempati oleh peso Filipina yang ditutup terkoreksi sebesar 0,2%. Kondisi serupa dialami oleh dolar Taiwan yang melemah 0,17% di akhir sesi perdagangan.
Dolar Singapura juga tidak mampu bertahan di zona hijau dengan pelemahan sebesar 0,09%. Sementara itu, yen Jepang mencatatkan koreksi tipis sebesar 0,06%.
Ringgit Malaysia turut tergelincir sebesar 0,05% dalam perdagangan hari ini. Rupee India menjadi mata uang dengan pelemahan paling moderat yakni sebesar 0,003%.
Di sisi lain, tidak semua mata uang Asia berada di zona merah. Yuan China berhasil mencatatkan kinerja terbaik di kawasan dengan penguatan sebesar 0,05%.
Baht Thailand juga berhasil mencatatkan kenaikan sebesar 0,03% terhadap dolar AS. Dolar Hong Kong menyusul dengan apresiasi tipis sebesar 0,01%.
Kondisi pasar keuangan saat ini menunjukkan tingginya volatilitas yang dipengaruhi oleh dinamika kebijakan moneter global. Investor cenderung lebih berhati-hati dalam menempatkan modal di tengah ketidakpastian ekonomi.
Pelemahan rupiah ke level Rp 17.915 per dolar AS ini menjadi perhatian para pelaku pasar. Hal ini mengindikasikan bahwa tekanan eksternal masih membayangi stabilitas nilai tukar domestik.
Bank Indonesia diperkirakan terus memantau pergerakan pasar untuk memitigasi risiko. Langkah intervensi atau kebijakan stabilisasi seringkali menjadi opsi untuk menjaga volatilitas rupiah agar tetap dalam koridor fundamentalnya.
Kinerja mata uang Asia yang cenderung kompak melemah menunjukkan adanya arus modal keluar dari pasar regional. Fenomena ini biasanya terjadi saat dolar AS mengalami penguatan indeks secara luas di pasar global.
Para analis pasar uang memprediksi fluktuasi nilai tukar masih akan berlanjut dalam waktu dekat. Faktor data ekonomi AS dan kebijakan suku bunga bank sentral global akan menjadi katalis utama pergerakan mata uang selanjutnya.





