JAKARTA – Sektor manufaktur Indonesia kembali menunjukkan geliat positif setelah Purchasing Managers’ Index (PMI) periode September 2026 berhasil menembus zona ekspansi. Indeks manufaktur tercatat berada di level 52,4, meningkat signifikan dibandingkan posisi Agustus 2026 yang berada di level kontraksi pada 49,8.
Pencapaian ini didorong oleh penguatan pada komponen pesanan baru, peningkatan volume produksi, serta pertumbuhan permintaan ekspor. Kondisi tersebut menandakan adanya perbaikan pada utilisasi kapasitas produksi di tingkat industri.
Meski demikian, para analis pasar modal menyarankan pelaku pasar agar tetap berhati-hati dalam menyikapi data bulanan ini. Pemulihan tersebut dinilai masih memerlukan konsistensi dalam beberapa bulan ke depan sebelum dapat dikategorikan sebagai tren pemulihan yang kuat.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas menyatakan bahwa keberlanjutan ekspansi ini sangat bergantung pada stabilitas daya beli domestik. Faktor lain seperti stabilitas nilai tukar rupiah dan pengendalian biaya produksi menjadi penentu utama bagi kinerja emiten ke depannya.
Jika tren ini terjaga hingga akhir tahun 2026 dan berlanjut ke 2027, sektor manufaktur diprediksi mampu memberikan kontribusi lebih besar terhadap laba emiten. Perusahaan yang memiliki eksposur kuat pada konsumsi rumah tangga dan aktivitas ekspor akan menjadi penerima manfaat utama.
Investment Analyst Infovesta Utama menambahkan bahwa peningkatan pesanan baru akan memberikan dampak positif pada kinerja keuangan kuartal IV 2026. Namun, dampak yang lebih substansial terhadap kinerja tahunan baru akan terlihat jika ekspansi ini berlangsung secara konsisten.
Sejumlah subsektor yang diproyeksikan diuntungkan meliputi industri barang konsumsi, makanan dan minuman, otomotif, serta kimia dan petrokimia. Emiten seperti ICBP, MYOR, CPIN, dan AUTO dinilai memiliki posisi strategis untuk menangkap momentum pemulihan domestik.
Sementara itu, perusahaan dengan orientasi ekspor seperti TPIA, BRPT, INKP, dan TKIM tetap menarik untuk dicermati. Investor diingatkan untuk tetap memperhatikan fundamental masing-masing perusahaan, mengingat sensitivitas yang berbeda terhadap harga komoditas dan kondisi ekonomi global.
Peningkatan permintaan yang dibarengi dengan stabilisasi biaya bahan baku berpotensi menciptakan efisiensi operasional. Kondisi ini memungkinkan perusahaan meraih operating leverage melalui pembagian biaya tetap pada volume produksi yang lebih besar.
Terkait kenaikan backlog manufaktur yang mencapai laju tercepat dalam lima tahun terakhir, hal ini dipandang sebagai indikator positif sekaligus tantangan. Backlog yang tinggi menunjukkan tingginya permintaan, namun memerlukan kapasitas produksi yang memadai agar tidak menghambat rantai pasok.
Risiko operasional seperti keterlambatan pengiriman dan kenaikan biaya lembur perlu diantisipasi oleh emiten. Investor disarankan untuk memantau apakah perusahaan melakukan ekspansi kapasitas yang sejalan dengan peningkatan pesanan tersebut.
Dalam hal strategi investasi, saham sektor otomotif seperti AUTO direkomendasikan dengan target harga Rp3.800 hingga Rp3.900 per saham. Selain itu, ASII dinilai memiliki valuasi yang menarik untuk akumulasi bertahap dengan target harga jangka menengah di kisaran Rp5.000 hingga Rp5.200 per saham.






