Keuangan

Penerbitan Obligasi Korporasi Melonjak Jadi Rp19,47 Triliun di September 2026

42
×

Penerbitan Obligasi Korporasi Melonjak Jadi Rp19,47 Triliun di September 2026

Sebarkan artikel ini
Grafik kenaikan nilai penerbitan obligasi korporasi di Indonesia pada September 2026
Penerbitan obligasi korporasi di Indonesia melonjak menjadi Rp19,47 triliun pada September 2026.

JAKARTA – Aktivitas penerbitan surat utang korporasi di Indonesia menunjukkan sinyal pemulihan pada September 2026 dengan nilai emisi mencapai Rp19,47 triliun. Angka tersebut meningkat signifikan dibandingkan realisasi bulan Agustus 2026 yang hanya mencatatkan Rp7,87 triliun.

Meski demikian, secara kumulatif sepanjang Januari hingga September 2026, total penerbitan surat utang korporasi masih terkoreksi. Nilainya tercatat sebesar Rp139,65 triliun, atau turun 12,75% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp160,07 triliun.

Chief Economist PT Pemeringkat Efek Indonesia (PEFINDO) Suhindarto menyatakan bahwa perbaikan pada September belum mencerminkan pemulihan penuh. Meskipun secara bulanan stabil dibandingkan September 2025, tekanan biaya pendanaan masih menjadi kendala utama bagi emiten.

Kenaikan imbal hasil atau yield Surat Berharga Negara (SBN) serta instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) turut memengaruhi pasar. Kondisi ini memaksa perusahaan menawarkan tingkat kupon yang lebih kompetitif agar dapat menarik minat investor.

Suhindarto mencatat sejumlah korporasi besar tetap melakukan penerbitan di tengah kondisi pasar yang menantang. Beberapa di antaranya meliputi Pegadaian, Indah Kiat Pulp & Paper, Astra Sedaya Finance, Permodalan Nasional Madani, serta Federal International Finance.

Sementara itu, Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai pasar obligasi korporasi tetap memiliki prospek positif memasuki kuartal IV-2026. Fokus emiten saat ini lebih diarahkan pada kebutuhan refinancing daripada spekulasi penurunan suku bunga.

Terdapat kebutuhan pembayaran utang jatuh tempo yang cukup besar pada periode Oktober hingga Desember 2026, yakni sekitar Rp43 triliun. Selain itu, kebutuhan modal kerja dan belanja modal yang sempat tertunda menjadi pendorong utama aktivitas penerbitan obligasi ke depan.

Terkait proyeksi tahunan, PEFINDO sebelumnya menetapkan target penerbitan surat utang korporasi tahun 2026 di kisaran Rp154 triliun hingga Rp196,86 triliun. Yusuf memprediksi realisasi akhir tahun kemungkinan besar akan berada di rentang bawah hingga menengah.

Hal ini didasari oleh realisasi semester I-2026 yang hanya mencapai Rp87,35 triliun. Asumsi awal proyeksi yang dibuat saat pasar mengantisipasi pelonggaran moneter kini dinilai perlu disesuaikan kembali menyusul ketahanan suku bunga acuan di level 5,75%.

Tingginya yield SBN 10 tahun yang berada di kisaran 7,159% per 4 Oktober 2026 membuat emiten lebih berhati-hati. Perusahaan dengan peringkat menengah cenderung memilih tenor yang lebih pendek atau menunda penerbitan guna memitigasi risiko biaya dana yang tinggi.

Dinamika pasar obligasi ini berjalan beriringan dengan tren positif di sektor lain, seperti pertumbuhan waran terstruktur yang mencapai Rp4,18 triliun hingga pertengahan September 2026. Di sisi lain, pemerintah juga mencatat realisasi pembiayaan utang sebesar Rp506 triliun hingga Agustus 2026, yang mencakup 60,8% dari target APBN.