Keuangan

Tips BCA dan Komdigi Kelola Keuangan Aman di Era Digital

55
×

Tips BCA dan Komdigi Kelola Keuangan Aman di Era Digital

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi transaksi keuangan digital yang aman dan edukasi literasi keuangan di era modern
Pakar keuangan dan pejabat publik menekankan pentingnya disiplin mengelola keuangan di era digital.

JAKARTA – Pesatnya digitalisasi transaksi keuangan di Indonesia menuntut masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai risiko ekonomi modern. Kemudahan akses layanan keuangan kini dibarengi dengan ancaman nyata, mulai dari jeratan utang konsumtif, judi daring, hingga modus penipuan berbasis kecerdasan artifisial (AI).

Peringatan tersebut mengemuka dalam sesi Interaktif Financial Talks pada acara “Financial Healing: Wayang Kuliterasi” yang berlangsung Sabtu (3/10). Para pakar keuangan dan pejabat publik menekankan pentingnya disiplin dalam mengelola penghasilan di tengah budaya konsumsi media sosial yang agresif.

Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Antonius Widodo Mulyono menegaskan, prinsip dasar pengelolaan keuangan adalah memisahkan pendapatan untuk tabungan sebelum dialokasikan bagi kebutuhan lain. Masyarakat diingatkan untuk tidak menyamakan seluruh penghasilan dengan pengeluaran bulanan.

Prioritas pengeluaran harus didasarkan pada kebutuhan mendesak, bukan keinginan sesaat. Tren gaya hidup atau flexing di media sosial sering kali mendorong seseorang membelanjakan uang untuk hal-hal yang tidak produktif, yang justru menghambat upaya akumulasi kekayaan.

Jaksa Agung Muda Bidang Perdata dan Tata Usaha Negara, Narendra Jatna, menyoroti aspek hukum dalam transaksi digital. Ia mengingatkan bahwa kemudahan memperoleh pinjaman atau layanan keuangan digital tidak menjamin kemudahan dalam pengembalian dana tersebut.

Narendra secara khusus menyoroti bahaya judi daring yang kerap menjanjikan keuntungan instan. Ia menegaskan bahwa penyelenggara judi memiliki motif ekonomi untuk merugikan pemain, sehingga iming-iming kekayaan cepat justru sering kali membawa masyarakat pada kesulitan finansial yang lebih dalam.

Tantangan literasi digital juga menjadi sorotan Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi) Nezar Patria. Dengan penetrasi internet yang mencapai 81 persen populasi, risiko penipuan daring kini semakin kompleks dengan pemanfaatan teknologi AI.

Teknologi AI saat ini mampu meniru suara, wajah, hingga memalsukan bukti transaksi dengan akurasi tinggi. Masyarakat diminta untuk selalu waspada terhadap informasi yang tampak terlalu menguntungkan atau too good to be true karena potensi penipuan yang menyertainya.

Wakil Kepala II Badan Pengaturan Badan Usaha Milik Negara, Tedi Bharata, menambahkan bahwa pelaku penipuan sering kali memanipulasi emosi korban untuk mengambil keputusan secara terburu-buru. Penipu kerap menggunakan rasa takut atau urgensi palsu agar korban tidak sempat berpikir secara logis.

Masyarakat disarankan untuk selalu melakukan verifikasi terhadap setiap informasi atau tawaran yang masuk, terutama jika melibatkan permintaan transfer dana. Mengambil jeda waktu sebelum bertindak dapat mencegah seseorang menjadi korban manipulasi emosional.

Acara “Financial Healing: Wayang Kuliterasi” sendiri menjadi wadah edukasi yang mencoba mengintegrasikan literasi keuangan dengan budaya lokal. Pendekatan ini bertujuan agar pesan mengenai manajemen utang, perbedaan kebutuhan dan keinginan, serta risiko penipuan dapat diterima dengan lebih baik oleh masyarakat luas.

Literasi keuangan di era digital bukan lagi sekadar kemampuan mencari nafkah, melainkan juga kemampuan menjaga aset dari berbagai ancaman siber. Kebiasaan memeriksa sumber informasi dan sikap kritis terhadap tawaran investasi menjadi benteng utama masyarakat dalam menjaga stabilitas ekonomi pribadi.