JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendorong generasi muda untuk berperan aktif sebagai duta literasi keuangan guna menekan angka penipuan di ekosistem digital yang kian marak. Ajakan tersebut disampaikan dalam acara Katadata Financial Healing 2026 yang berlangsung di Taman Literasi Martha Tiahahu, Jakarta Selatan, Sabtu (3/10/2026).
Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Jasa Keuangan, Edukasi, dan Perlindungan Konsumen OJK, Dicky Kartikoyono, menegaskan bahwa generasi muda merupakan kelompok tech savvy yang paling rentan terhadap modus kejahatan siber. Ia menekankan perlunya kewaspadaan ekstra terhadap berbagai modus penipuan, seperti pengiriman tautan aplikasi ilegal (APK) hingga tawaran pinjaman daring tidak resmi.
OJK mencatat kerugian masyarakat akibat penipuan daring mencapai Rp12 triliun dalam dua tahun terakhir. Angka tersebut diperkirakan masih lebih rendah dari realita di lapangan karena tidak semua korban melaporkan kasus yang mereka alami.
Untuk memitigasi risiko, OJK mengimbau masyarakat menerapkan prinsip check before payment dan check before transfer. Pendekatan perlindungan konsumen kini diarahkan pada langkah antisipatif, mengingat ekosistem keuangan digital yang saling terhubung memungkinkan penipuan menyebar dengan sangat cepat.
Pemimpin Redaksi Katadata, Yura Syahrul, menambahkan bahwa literasi keuangan adalah fondasi krusial di tengah kemudahan akses layanan finansial saat ini. Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026, indeks literasi keuangan Indonesia berada di angka 69,57 persen, sementara inklusi keuangan mencapai 93,61 persen.
Angka inklusi yang tinggi tersebut menuntut masyarakat untuk lebih bijak dalam mengambil keputusan finansial. Yura mengingatkan agar generasi muda tidak terjebak pada keputusan impulsif saat menggunakan berbagai produk investasi digital yang tersedia.
Kegiatan Katadata Financial Healing 2026 menjadi bagian dari rangkaian Bulan Inklusi Keuangan (BIK) 2026. Acara ini mempertemukan regulator dan generasi muda untuk membahas pengelolaan keuangan yang sehat dan investasi yang terencana.
Diskusi dalam acara tersebut menyoroti pentingnya memahami instrumen investasi sesuai profil risiko masing-masing individu. Peserta diajak untuk menghindari jebakan investasi yang hanya mengikuti tren atau Fear of Missing Out (FOMO).
Selain sesi edukasi, acara ini mengintegrasikan unsur budaya dan hiburan untuk menjangkau audiens muda. Salah satunya adalah pertunjukan wayang bertema Puntadewa yang memberikan pesan moral mengenai konsekuensi dari pengambilan keputusan keuangan yang gegabah.
Upaya penguatan literasi keuangan bagi generasi muda juga tengah digalakkan oleh berbagai lembaga lain di seluruh Indonesia. Mulai dari edukasi bagi pelajar di Ternate, mahasiswa di Medan, hingga tenaga pendidik di Tasikmalaya, seluruhnya bertujuan menciptakan ketahanan sistem keuangan nasional.
Seluruh rangkaian inisiatif ini merupakan bagian dari persiapan menuju Indonesia Emas 2045. Kualitas generasi muda dalam mengelola keuangan menjadi modal utama dalam menjaga stabilitas sistem keuangan negara di masa depan.






