JAKARTA – Penjualan Sukuk Negara Ritel (SR) seri SR025 mencatatkan progres signifikan di tengah tantangan penurunan tingkat imbal hasil dibandingkan instrumen Surat Berharga Negara (SBN) ritel sebelumnya. Hingga Rabu (9/9/2026), data dari mitra distribusi Bareksa menunjukkan seri SR025 tenor tiga tahun telah terserap 69,79% dari kuota Rp 15 triliun.
Sementara itu, seri SR025 dengan tenor lima tahun telah terjual sebanyak 48,13% dari kuota yang ditetapkan sebesar Rp 5 triliun. Secara nominal, volume penjualan untuk tenor tiga tahun mencapai sekitar Rp 10,47 triliun, sedangkan tenor lima tahun mencatatkan angka Rp 2,41 triliun.
Instrumen SR025 menawarkan imbal hasil sebesar 6,80% untuk tenor tiga tahun dan 6,90% untuk tenor lima tahun. Angka tersebut tercatat lebih rendah dibandingkan seri ORI030 yang sebelumnya memberikan imbal hasil 6,90% untuk tenor tiga tahun dan 7,00% untuk tenor enam tahun.
Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA), David Sumual, menilai perbedaan tingkat imbal hasil ini menjadi tantangan utama dalam penawaran SR025. Meski begitu, ia menegaskan bahwa kupon yang ditawarkan masih cukup menarik bagi investor dengan profil risiko konservatif hingga moderat.
Karakteristik investor ritel domestik cenderung memprioritaskan besaran kupon yang stabil sebagai acuan utama dalam pengambilan keputusan investasi. Hal ini menjaga daya tarik SR025 di tengah kondisi pasar yang dinamis.
Senada dengan hal tersebut, Chief Operating Officer Bareksa, Ni Putu Kurniasari, menyatakan bahwa imbal hasil SR025 masih sangat kompetitif jika dibandingkan dengan instrumen investasi konservatif lainnya, terutama deposito perbankan. Selain faktor kupon, jaminan pembayaran penuh oleh negara menjadi nilai tambah utama bagi investor yang mengutamakan keamanan modal.
Kepastian pembayaran imbal hasil tetap menjadi daya tarik utama di tengah lingkungan suku bunga acuan yang masih berada pada level relatif tinggi. Hal ini membuat SR025 tetap menjadi pilihan diversifikasi yang stabil bagi masyarakat.
Terkait pergerakan pasar, David Sumual menambahkan bahwa sebagian investor yang memiliki orientasi pada aktivitas perdagangan jangka pendek mungkin akan mulai melirik pasar saham seiring dengan tren pemulihan pasar. Namun, hal ini tidak serta merta menghentikan minat terhadap instrumen SBN.
Diversifikasi ke instrumen berisiko rendah seperti SR025 tetap menjadi langkah strategis bagi investor saat pasar saham menunjukkan volatilitas tinggi. Keputusan untuk tetap menempatkan dana pada instrumen negara dipandang sebagai langkah protektif.
Masa penawaran SR025 masih akan berlangsung hingga 16 September 2026 mendatang. Hingga saat ini, belum terdapat data spesifik yang menunjukkan pergeseran dana investor secara masif dari SBN ke pasar modal, sehingga optimisme terhadap penyerapan sisa kuota tetap terjaga.






