Ekonomi

DEN Ingatkan Risiko Capital Outflow Jika Pemerintah Tidak Disiplin Fiskal

28
×

DEN Ingatkan Risiko Capital Outflow Jika Pemerintah Tidak Disiplin Fiskal

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi grafik ekonomi dan mata uang asing yang mencerminkan arus modal investor di Indonesia
Dewan Ekonomi Nasional menekankan pentingnya disiplin fiskal pemerintah untuk menjaga kepercayaan investor asing.

JAKARTA – Dewan Ekonomi Nasional (DEN) memberikan peringatan keras kepada pemerintah mengenai pentingnya menjaga disiplin fiskal untuk mencegah ancaman penarikan modal besar-besaran oleh investor asing atau capital outflow. Kredibilitas pengelolaan anggaran negara dinilai menjadi faktor penentu utama dalam mempertahankan kepercayaan investor di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Anggota DEN, Heriyanto Irawan, mengungkapkan bahwa saat ini investor asing telah menanamkan modal sekitar US$ 88 miliar atau setara Rp 1.544,6 triliun dalam surat berharga Indonesia. Jika terjadi penarikan dana sebesar 10 persen saja dari total investasi tersebut, dampaknya terhadap stabilitas ekonomi domestik dipastikan akan sangat signifikan.

Risiko capital outflow tersebut diperburuk oleh meningkatnya daya tarik imbal hasil atau yield surat berharga di negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan Jepang. Ketika imbal hasil di negara maju melampaui angka 3 persen, aset-aset di negara berkembang cenderung kurang kompetitif bagi para pemegang modal global.

Heriyanto menegaskan bahwa untuk memitigasi risiko tersebut, pemerintah harus menunjukkan disiplin fiskal yang kuat. Postur anggaran tahun depan yang memproyeksikan defisit terkendali di kisaran 2,5 persen menjadi instrumen penting untuk meyakinkan pasar bahwa Indonesia tetap memiliki fundamental ekonomi yang kokoh.

Selain tekanan dari pasar modal global, pemerintah juga diminta mewaspadai fluktuasi harga komoditas dunia, terutama minyak bumi. Meskipun sempat tertekan akibat perubahan kebijakan impor di Tiongkok, tren kenaikan harga minyak belakangan ini berpotensi memberikan tekanan baru pada anggaran negara.

Di sisi domestik, Heriyanto menyoroti tantangan krusial terkait daya beli masyarakat yang sangat bergantung pada penciptaan lapangan kerja berkualitas. Saat ini, tingkat pengangguran di kalangan pemuda masih berada di angka 16 persen dan mencakup hampir separuh dari total penganggur di Indonesia.

Pemerintah diingatkan bahwa Indonesia akan menghadapi lonjakan angkatan kerja baru dalam 10 hingga 15 tahun ke depan. Kondisi ini menuntut perencanaan strategis agar bonus demografi tersebut tidak berubah menjadi beban ekonomi akibat kurangnya ketersediaan lapangan kerja.

Salah satu solusi yang ditawarkan adalah melalui peningkatan investasi yang signifikan. Namun, tren realisasi investasi saat ini dinilai belum mencapai level yang diharapkan untuk menyerap tenaga kerja secara optimal.

Untuk memacu arus investasi, pemerintah perlu melakukan langkah konkret melalui deregulasi dan penyederhanaan aturan yang menghambat dunia usaha. Perbaikan iklim investasi menjadi kunci agar Indonesia tetap menjadi destinasi utama bagi modal asing di tengah persaingan global.

Disiplin fiskal dan perbaikan iklim investasi merupakan dua pilar yang saling berkaitan dalam menjaga pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Konsistensi pemerintah dalam menjalankan kebijakan tersebut diharapkan mampu meredam gejolak eksternal sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi nasional dari ancaman pelarian modal.