JAKARTA – PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) secara resmi menurunkan peringkat PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) menjadi idCCC. Penurunan peringkat ini dipicu oleh kegagalan perusahaan dalam memenuhi kewajiban pembayaran kupon obligasi yang jatuh tempo.
Manajemen ADHI diketahui tidak mampu menyelesaikan pembayaran kupon atas Obligasi Berkelanjutan III tahap III seri B dan C dengan total nilai Rp 60,82 miliar. Kewajiban tersebut seharusnya diselesaikan pada Senin, 24 Agustus 2026.
Analis Pefindo, William Siregar dan Yogie Perdana, menyatakan bahwa selain menurunkan peringkat korporasi, lembaga pemeringkat tersebut juga menyematkan status CreditWatch dengan implikasi negatif. Status ini mencerminkan tingginya risiko ketidakpastian keuangan yang dihadapi emiten konstruksi tersebut saat ini.
Pefindo menegaskan bahwa ketidakmampuan ADHI dalam memenuhi kewajiban utang selama periode remedial dapat memicu penurunan peringkat lebih lanjut. Lembaga ini terus memantau perkembangan resolusi keuangan yang akan diambil oleh pihak manajemen perusahaan.
Peringkat perusahaan dapat ditinjau kembali apabila ADHI mampu menyelesaikan permasalahan kewajiban utang yang jatuh tempo. Selain itu, perusahaan harus mampu menunjukkan kapasitas finansial dan solusi berkelanjutan atas kewajiban keuangan lainnya yang akan jatuh tempo dalam waktu dekat.
Di sisi lain, PT Adhi Karya (Persero) Tbk saat ini tengah menerapkan strategi penyeleksian proyek yang lebih ketat. Langkah ini diambil sebagai upaya perusahaan untuk menjaga profitabilitas di tengah tekanan biaya konstruksi yang terus meningkat.
Strategi efisiensi tersebut menjadi krusial bagi keberlangsungan operasional ADHI di tengah tantangan arus kas yang sedang dihadapi. Perusahaan berupaya menyeimbangkan antara penyelesaian kewajiban utang dan keberlanjutan proyek-proyek strategis yang sedang berjalan.
Kondisi sektor konstruksi secara umum memang tengah menghadapi tantangan berat akibat tekanan margin. Berbagai perusahaan di sektor ini dituntut untuk melakukan manajemen keuangan yang lebih konservatif guna menghindari risiko gagal bayar di masa depan.
Sementara itu, dinamika pasar modal Indonesia saat ini diwarnai oleh sentimen yang beragam. Di saat saham sektor konstruksi menghadapi tekanan, pasar aset kripto justru menunjukkan tren penguatan yang signifikan dengan Bitcoin yang berhasil menembus level US$ 80.000.
Penguatan aset kripto tersebut didorong oleh optimisme pasar terhadap perkembangan regulasi di Amerika Serikat. Perbedaan tren antara sektor konstruksi dan pasar aset digital menunjukkan adanya pergeseran fokus investor di tengah volatilitas ekonomi global.
Pemerintah sendiri terus berupaya melakukan penyesuaian kebijakan untuk mendukung sektor riil, termasuk langkah Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang menurunkan bunga pinjaman bagi pelaku UMKM. Penurunan bunga dari 22 persen menjadi 8 persen diharapkan dapat meringankan beban pelaku usaha mikro di tengah ketidakpastian ekonomi.






