Bursa Saham

Kinerja Keuangan HRUM Diprediksi Terus Tumbuh Berkat Penopang Sektor Nikel

33
×

Kinerja Keuangan HRUM Diprediksi Terus Tumbuh Berkat Penopang Sektor Nikel

Sebarkan artikel ini
Logo PT Harum Energy Tbk dengan latar belakang area pertambangan nikel yang sedang beroperasi
Kinerja keuangan PT Harum Energy Tbk diproyeksikan terus tumbuh berkat kontribusi besar dari sektor nikel.

JAKARTA – PT Harum Energy Tbk (HRUM) diproyeksikan mampu mempertahankan tren pertumbuhan kinerja keuangan yang positif hingga akhir tahun 2026. Optimisme ini didorong oleh dominasi kontribusi segmen nikel terhadap total pendapatan perusahaan.

Berdasarkan laporan kinerja semester I-2026, HRUM mencatatkan pendapatan sebesar US$ 1,08 miliar. Angka tersebut mencerminkan kenaikan sebesar 67% secara tahunan atau year on year (yoy).

Sejalan dengan peningkatan pendapatan, laba bersih perusahaan melonjak tajam hingga 237% yoy menjadi US$ 129,3 juta. EBITDA perusahaan juga tercatat melesat 140% yoy menjadi US$ 264,5 juta pada periode yang sama.

Manajemen HRUM menyatakan bahwa lonjakan kinerja ini didorong oleh peningkatan volume penjualan nikel. Hal ini terjadi seiring dimulainya penjualan komersial Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) dengan harga jual rata-rata yang solid.

Volume penjualan nikel perusahaan tercatat naik 69% yoy menjadi 56.371 ton pada semester pertama 2026. Harga jual rata-rata produk nikel juga mengalami pertumbuhan sebesar 32% yoy menjadi US$ 15.958 per ton.

Peningkatan volume penjualan ini merupakan dampak langsung dari keberhasilan ekspansi kapasitas produksi anak usaha, yakni PT Blue Sparking Energy (BSE). Segmen nikel kini menyumbang sekitar 97% dari total pendapatan HRUM sepanjang semester I-2026.

Kontribusi nikel tersebut menjadi penyeimbang utama bagi penurunan kinerja di segmen batubara. Volume penjualan batubara HRUM tercatat terkoreksi 92% yoy menjadi 0,8 juta ton akibat kendala keterlambatan persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) di awal tahun.

Merespons kondisi tersebut, perusahaan menargetkan produksi batubara sebesar 3 juta ton yang diharapkan dapat terealisasi pada semester II-2026. Upaya ini dilakukan untuk menjaga stabilitas arus kas dari bisnis konvensional tersebut.

Analis pasar menilai HRUM kini telah bertransformasi menjadi perusahaan pertambangan dan pengolahan nikel yang terintegrasi. Bisnis nikel diprediksi akan terus menjadi penopang utama pendapatan perusahaan hingga akhir tahun.

Peningkatan kapasitas produksi di BSE dan kontribusi MHP diyakini akan menjaga margin keuntungan tetap stabil. Hal ini berlaku dengan catatan harga nikel di pasar global tetap berada dalam tren yang konstruktif.

Integrasi rantai nilai nikel yang semakin kuat memberikan nilai tambah yang signifikan bagi perusahaan melalui hilirisasi. Namun, perusahaan tetap harus mewaspadai volatilitas harga komoditas global.

Risiko lain yang perlu dimitigasi meliputi potensi kelebihan pasokan nikel, fluktuasi biaya produksi, serta risiko operasional pada proyek smelter. Kebutuhan belanja modal yang tinggi dan perubahan regulasi pertambangan juga menjadi faktor yang terus dipantau.

Untuk menghadapi tantangan tersebut, HRUM disarankan untuk memperketat efisiensi operasional dan disiplin biaya. Optimalisasi utilisasi proyek-proyek nikel baru menjadi kunci untuk menjaga profitabilitas di tengah persaingan pasar.

Integrasi vertikal dari penambangan bijih hingga pemurnian harus diperkuat guna meminimalisir ketergantungan pada fluktuasi harga komoditas. Pendekatan selektif pada bisnis batubara juga diperlukan untuk menjaga keseimbangan arus kas perusahaan.

Para analis merekomendasikan untuk menambah kepemilikan saham HRUM. Target harga saham emiten ini dipatok pada level Rp 970 per lembar saham.