Emas

Harga Emas Terkoreksi, Investor Waspadai Risiko Inflasi Hari Ini

38
×

Harga Emas Terkoreksi, Investor Waspadai Risiko Inflasi Hari Ini

Sebarkan artikel ini
Kepingan emas batangan yang disusun rapi sebagai simbol investasi logam mulia
Harga emas dunia mengalami koreksi tipis pada perdagangan awal pekan ini.

JAKARTA – Harga emas dunia mengalami tekanan pada perdagangan awal pekan ini, Senin (21/9/2026). Data Commodity Exchange menunjukkan harga emas untuk pengiriman Desember 2026 berada di posisi US$ 4.309,10 per ons troi, terkoreksi sebesar 0,36% dibandingkan penutupan akhir pekan lalu yang tercatat di level US$ 4.424,90 per ons troi.

Meskipun terjadi koreksi, harga komoditas logam mulia ini terpantau masih bertahan stabil di kisaran US$ 4.300 per ons troi. Stabilitas harga ini mencerminkan sikap hati-hati para pelaku pasar di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Para investor saat ini tengah mempertimbangkan risiko inflasi yang berkelanjutan. Selain itu, arah kebijakan suku bunga acuan Amerika Serikat pasca-kenaikan oleh The Fed menjadi fokus utama pasar.

Pasar menantikan pandangan dari para pembuat kebijakan The Fed yang dijadwalkan akan memberikan pernyataan publik sepanjang pekan ini. Agenda tersebut menyusul keputusan bank sentral AS yang resmi menaikkan suku bunga pada pertemuan 15-16 September lalu.

Tekanan terhadap harga emas juga dipicu oleh pernyataan pejabat The Fed Minneapolis, Neel Kashkari. Ia menegaskan bahwa tingkat inflasi di Amerika Serikat masih berada pada level yang tinggi.

Kashkari menambahkan bahwa tekanan inflasi saat ini telah meluas ke berbagai sektor ekonomi. Dampak kenaikan harga tidak lagi terbatas pada guncangan harga minyak akibat eskalasi geopolitik di Iran.

Menurut Kashkari, inflasi yang dirasakan masyarakat Amerika saat ini sudah merambah ke hampir seluruh aspek ekonomi harian. Hal ini menjadi sinyal bahwa tantangan moneter yang dihadapi masih cukup berat.

Kenaikan harga energi yang terjadi belakangan ini memperkuat spekulasi pasar mengenai kebijakan suku bunga. Terdapat ekspektasi kuat bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama.

Kebijakan suku bunga tinggi memberikan sentimen negatif bagi emas. Sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset), emas cenderung kurang diminati investor ketika suku bunga berada di level tinggi karena biaya peluang dalam memegang emas meningkat.

Kondisi pasar saat ini sejalan dengan tren volatilitas yang terjadi sepanjang September 2026. Sebelumnya, sejumlah analis telah memprediksi pergerakan harga emas akan sangat bergantung pada data inflasi dan kebijakan fiskal AS.

Beberapa lembaga keuangan besar, seperti Schroders, sempat menaikkan peringkat emas menjadi positif di akhir Agustus lalu. Optimisme tersebut didorong oleh permintaan struktural yang kuat di tengah kekhawatiran utang pemerintah AS.

Namun, dinamika pasar saat ini menunjukkan bahwa sentimen jangka pendek masih didominasi oleh kekhawatiran terhadap kebijakan moneter ketat. Investor terus memantau setiap komentar dari petinggi The Fed untuk mencari petunjuk mengenai langkah kebijakan selanjutnya.