JAKARTA – Harga emas dunia kembali mencatatkan penguatan sebesar 1,2% menjadi US$ 4.314,64 per ons troi pada perdagangan Kamis (17/9/2026). Kenaikan ini terjadi setelah investor mulai mencerna keputusan Federal Reserve (The Fed) terkait kenaikan suku bunga serta sinyal pengetatan kebijakan moneter lanjutan.
Penguatan harga emas terjadi setelah sebelumnya logam mulia ini sempat menyentuh level terendah dalam hampir enam pekan. Reli harga minyak yang mulai mereda turut memberikan ruang bagi emas untuk kembali memulihkan posisinya di pasar global.
Berbanding terbalik dengan harga spot, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember justru mencatatkan penurunan sebesar 0,8% ke level US$ 4.353,90 per ons troi. Perbedaan arah ini mencerminkan dinamika pasar yang masih sangat dipengaruhi oleh sentimen kebijakan moneter Amerika Serikat.
Analis pasar senior OANDA, Kelvin Wong, menyatakan bahwa pergerakan harga minyak mentah menjadi variabel krusial bagi investor emas saat ini. Pelemahan harga minyak, yang dipicu oleh laporan penambahan kargo dari Arab Saudi melalui Oman, berpotensi memberikan dukungan bagi emas dalam jangka menengah.
Meski sempat menguat, Wong menilai emas masih cenderung bergerak dalam rentang yang terbatas. Kenaikan saat ini dinilai lebih didorong oleh faktor teknikal karena sikap hawkish The Fed sebenarnya sudah tercermin secara signifikan dalam harga pasar.
Proyeksi ekonomi terbaru mencatat bahwa 16 dari 18 pejabat The Fed memperkirakan setidaknya satu kali kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin akan terjadi hingga akhir tahun 2026. Suku bunga yang lebih tinggi secara historis menjadi beban bagi emas karena meningkatkan daya tarik aset berbunga.
Emas, sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil bunga, menghadapi tantangan berat ketika biaya peluang untuk memegang logam mulia meningkat. Meski demikian, peran emas sebagai instrumen lindung nilai terhadap inflasi tetap menjadi pertimbangan utama bagi para pelaku pasar.
Selain kebijakan The Fed, investor juga memantau langkah bank sentral global lainnya, termasuk Bank of England. Pasar kini tengah mencermati apakah lonjakan harga energi di berbagai negara akan memaksa bank sentral untuk menyesuaikan arah kebijakan moneter mereka.
Di sisi geopolitik, ketegangan di Timur Tengah masih menjadi faktor yang diperhatikan investor. Meskipun terdapat harapan akan berakhirnya konflik dengan Iran, serangan di kawasan tersebut, termasuk aksi drone dan rudal oleh kelompok Houthi ke Arab Saudi, terus membayangi stabilitas global.
Sentimen positif di pasar logam mulia tidak hanya dirasakan oleh emas. Harga perak spot tercatat naik 1,5% menjadi US$ 63,91 per ons troi, sementara platinum menguat 1,9% ke posisi US$ 1.784,42.
Logam palladium juga mengikuti tren kenaikan dengan apresiasi sebesar 2,4% menjadi US$ 1.299,59 per ons troi. Secara keseluruhan, pelaku pasar saat ini tengah menanti rilis risalah rapat The Fed untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan moneter ke depan.



