Valuta

Rupiah Diprediksi Fluktuatif, Simak Sentimen Penggerak Pasar Hari Ini

45
×

Rupiah Diprediksi Fluktuatif, Simak Sentimen Penggerak Pasar Hari Ini

Sebarkan artikel ini
Tampilan layar grafik pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di bursa saham
Nilai tukar rupiah diproyeksikan bergerak fluktuatif pada perdagangan awal pekan ini.

JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diproyeksikan masih akan bergerak fluktuatif pada perdagangan awal pekan, Senin (21/9/2026). Pergerakan mata uang Garuda ini dibayangi oleh sentimen geopolitik global serta ketidakpastian arah kebijakan moneter bank sentral AS, The Federal Reserve.

Pada penutupan perdagangan Jumat (18/9/2026), kurs rupiah di pasar spot tercatat melemah tipis sebesar 0,03% ke level Rp17.758 per dolar AS. Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia menunjukkan penguatan tipis 0,05% ke posisi Rp17.745 per dolar AS.

Analis pasar keuangan memperkirakan rupiah akan bergerak dalam rentang konsolidasi pada awal pekan ini. Estimasi pergerakan nilai tukar berada pada kisaran Rp17.700 hingga Rp17.800 per dolar AS.

Faktor utama yang menekan mata uang domestik adalah eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Saat ini, fokus pasar beralih dari Selat Hormuz menuju wilayah Laut Merah dan Selat Al-Mandeb yang memicu kekhawatiran gangguan rantai pasok global.

Dinamika politik di Amerika Serikat menjelang pemilihan sela (midterm election) pada November mendatang turut menambah beban ketidakpastian. Ketegangan antara Partai Republik dan Partai Demokrat di Washington dinilai pelaku pasar sebagai risiko tambahan bagi stabilitas pasar keuangan global.

Di sisi lain, kebijakan moneter The Fed masih menjadi perhatian utama para investor. Terdapat spekulasi kuat di pasar mengenai potensi kenaikan suku bunga lanjutan hingga akhir tahun 2026 sebagai upaya meredam inflasi.

Berdasarkan proyeksi internal dari anggota dewan gubernur The Fed, mayoritas pejabat menginginkan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin. Langkah ini dipandang akan terus menjaga daya tarik dolar AS di mata investor global.

Selain faktor eksternal, pelaku pasar kini mulai mengalihkan fokus pada kebijakan moneter domestik. Antisipasi terhadap hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang dijadwalkan pada 22–23 September 2026 menjadi penentu arah rupiah selanjutnya.

Keputusan BI dalam RDG pekan ini akan menjadi sinyal penting bagi investor mengenai langkah bank sentral dalam menjaga stabilitas nilai tukar. Kebijakan tersebut akan diukur dengan kemampuan BI dalam merespons tekanan eksternal dan menjaga daya beli di tengah fluktuasi harga komoditas.

Secara keseluruhan, sentimen pasar pada pekan ini didominasi oleh sikap “wait and see” terhadap data ekonomi terbaru. Arus modal asing yang masuk ke pasar domestik akan sangat bergantung pada kepastian arah suku bunga di AS dan langkah preventif yang diambil oleh Bank Indonesia.

Para analis menyarankan investor untuk tetap mencermati perkembangan geopolitik serta rilis data ekonomi makro. Stabilitas rupiah ke depan sangat bergantung pada bagaimana otoritas moneter menyeimbangkan kebijakan suku bunga dengan kondisi fundamental ekonomi nasional.