JAKARTA – Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) menghadapi tantangan besar dalam upaya penyehatan keuangan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sektor konstruksi atau BUMN Karya. Total utang yang membebani sektor ini mencapai Rp180 triliun, sementara nilai aset yang tersedia dinilai tidak mencukupi untuk melunasi seluruh kewajiban tersebut.
Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, menyatakan bahwa pihaknya tengah berupaya keras melakukan restrukturisasi fundamental. Hingga saat ini, Danantara telah mengidentifikasi bahwa hanya tiga dari tujuh BUMN Karya yang memiliki kondisi keuangan relatif sehat.
Ketiga perusahaan tersebut adalah PT Nindya Karya, PT Brantas Abipraya, dan PT Hutama Karya. Danantara berkomitmen untuk menjaga kinerja ketiga perusahaan ini agar tidak terjerumus ke dalam krisis keuangan yang dialami oleh empat BUMN Karya lainnya.
Dony menekankan bahwa masalah keuangan pada BUMN Karya tidak hanya terjadi di level induk perusahaan, tetapi juga merambah hingga ke tingkat anak usaha. Hal ini menyebabkan proses pembenahan harus dilakukan secara bertahap dan mendalam, bukan sekadar memperbaiki tampilan laporan keuangan.
Persoalan utama yang dihadapi adalah ketidakseimbangan antara total utang dengan aset yang dimiliki perusahaan. Dony mengakui bahwa aset yang ada saat ini tidak cukup untuk menutup kewajiban yang menggunung tersebut.
Sebagai langkah strategis, Danantara menargetkan seluruh proses restrukturisasi BUMN Karya dapat dirampungkan pada akhir tahun 2026. Proses ini melibatkan penyusunan ulang peta jalan bisnis masing-masing perusahaan agar lebih berkelanjutan.
Dalam upaya transformasi tersebut, Danantara tidak menutup kemungkinan adanya penghapusbukuan atau write-off terhadap aset maupun pinjaman tertentu. Langkah ini dianggap perlu untuk membersihkan neraca keuangan perusahaan agar lebih mencerminkan kondisi riil.
Sebelumnya, Danantara telah melakukan koreksi pembukuan sebesar Rp135 triliun dalam proses transformasi BUMN secara keseluruhan. Angka tersebut diperkirakan masih akan bertambah seiring dengan penyelesaian masalah keuangan di sektor BUMN Karya.
Dony menyebutkan bahwa pihaknya terus menghitung potensi write-off tambahan yang harus dilakukan. Langkah ini diambil sebagai konsekuensi dari upaya perbaikan fundamental agar perusahaan dapat beroperasi kembali secara sehat di masa depan.
Di sisi lain, pasar modal domestik bereaksi terhadap dinamika sektor BUMN. Pada perdagangan sesi pertama Rabu (2/9), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup terkoreksi 0,28% ke level 6.581, di tengah aksi jual bersih investor asing sebesar Rp379 miliar yang menyasar sejumlah saham berkapitalisasi besar, termasuk di sektor infrastruktur.
Terkait kekhawatiran mengenai potensi delisting saham BUMN Karya dari bursa, Danantara menyatakan bahwa fokus utama saat ini tetap pada pemulihan fundamental bisnis. Restrukturisasi yang menyeluruh diharapkan mampu memulihkan kepercayaan investor dan keberlangsungan operasional perusahaan dalam jangka panjang.






