JAKARTA – Bank Indonesia (BI) resmi mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di level 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung pada 22-23 September 2026. Keputusan ini diambil di tengah dinamika ekonomi global yang kompleks serta tekanan dari kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve.
Keputusan tersebut dinilai pelaku pasar sebagai langkah stabilisasi yang telah diantisipasi sebelumnya. Analis pasar melihat kebijakan ini tidak akan memberikan dampak kejut yang signifikan bagi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam waktu dekat.
Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang, menyatakan bahwa penahanan suku bunga bukan merupakan katalis pendorong kenaikan pasar yang kuat. Pergerakan IHSG ke depan akan tetap sangat bergantung pada stabilitas nilai tukar rupiah, pergerakan imbal hasil obligasi global, serta arus modal asing.
Di sisi lain, BI dinilai masih memiliki ruang kebijakan makroprudensial yang cukup akomodatif untuk menjaga likuiditas. Transmisi kebijakan ini diharapkan dapat terus mendorong pertumbuhan kredit perbankan yang saat ini masih berada di level dua digit.
Namun, dalam jangka pendek, pasar diprediksi masih akan mengalami volatilitas tinggi. Penahanan suku bunga belum dianggap sebagai faktor pengubah arah pasar secara drastis jika tekanan terhadap mata uang rupiah dan sentimen eksternal terus berlanjut.
Pemicu utama ketidakpastian pasar berasal dari langkah The Fed yang menaikkan suku bunga acuannya ke kisaran 3,75%-4,00% pada 16 September 2026. Kondisi ini mempersempit selisih suku bunga antara Indonesia dan Amerika Serikat, yang berpotensi mengurangi daya tarik aset rupiah bagi investor.
Sejumlah analis memperingatkan adanya risiko kenaikan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 6,00% pada akhir tahun 2026. Risiko ini akan meningkat signifikan jika The Fed kembali menempuh kebijakan kenaikan suku bunga pada pertemuan berikutnya.
Secara teknikal, IHSG diproyeksikan bergerak dalam fase konsolidasi atau sideways dengan kecenderungan negatif dalam jangka pendek. Peluang pemulihan yang solid baru akan terbuka jika rupiah menunjukkan stabilitas dan tekanan arus keluar modal asing mereda.
Untuk jangka pendek, IHSG diperkirakan akan bergerak dalam kisaran support 6.186–6.200 dan resistance di angka 6.500. Jika mampu menembus level tersebut, indeks berpeluang melanjutkan penguatan menuju level psikologis 7.000 hingga 7.500 dalam jangka panjang.
Sektor perbankan, properti, konstruksi, dan otomotif menjadi sektor yang paling terdampak langsung oleh kebijakan ini. Keputusan BI memberikan kepastian biaya dana bagi perbankan, sehingga emiten dengan kualitas aset yang baik tetap memiliki peluang pertumbuhan laba.
Saham perbankan seperti BBRI, BMRI, dan BBCA dinilai masih relevan untuk dicermati oleh investor. Selain itu, beberapa saham di sektor komoditas dan energi juga mencatatkan potensi teknikal yang menarik di tengah kondisi pasar yang dinamis saat ini.






