Bursa Saham

Prospek Menarik Saham Lapis Kedua di Tengah Pelemahan Pasar 2026

45
×

Prospek Menarik Saham Lapis Kedua di Tengah Pelemahan Pasar 2026

Sebarkan artikel ini
Grafik pergerakan indeks saham di bursa efek Indonesia dengan latar belakang layar monitor perdagangan saham
Indeks saham lapis kedua mencatatkan kinerja yang lebih stabil dibandingkan IHSG di tengah pelemahan pasar tahun 2026.

JAKARTA – Saham lapis kedua atau second liner dinilai masih memiliki prospek menarik di tengah kondisi pasar modal yang sedang lesu hingga akhir tahun 2026. Data per 25 September 2026 menunjukkan indeks IDX SMC Composite mencatatkan penurunan sebesar 21,80% secara year to date (YTD).

Meski mengalami koreksi, kinerja indeks second liner tersebut tercatat lebih baik dibandingkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). IHSG sendiri ditutup pada level 6.241 per Jumat (25/9/2026) dengan akumulasi penurunan mencapai 27,81% YTD.

Kondisi serupa terjadi pada indeks utama lainnya yang mengalami tekanan lebih dalam. Indeks LQ45 tercatat terkoreksi 26,63% YTD, sementara IDX80 mengalami penurunan hingga 29,90% YTD.

Analis menilai ketahanan relatif saham lapis kedua bukan dipicu oleh faktor fundamental, melainkan struktur aliran dana di pasar. Tekanan jual asing saat ini lebih terfokus pada saham berkapitalisasi besar yang memiliki bobot tinggi dalam indeks global.

Saham berbobot besar umumnya lebih likuid dan banyak dimiliki oleh dana pasif. Proses rebalancing indeks MSCI dan FTSE, serta keluarnya saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi (high shareholding concentration) dari indeks utama, memperparah tekanan di papan atas.

Sebaliknya, saham lapis kedua lebih didominasi oleh investor domestik. Kelompok investor ini cenderung tidak terlalu sensitif terhadap fluktuasi selisih imbal hasil maupun nilai tukar mata uang.

Sektor komoditas dan energi menjadi penggerak utama bagi emiten lapis kedua saat ini. Kenaikan harga komoditas global memberikan dampak langsung yang lebih signifikan terhadap emiten berskala kecil yang belum melakukan diversifikasi bisnis luas.

Prospek emiten second liner hingga tahun 2027 ke depan akan sangat bergantung pada arus dana asing. Jika MSCI mempertahankan status emerging market Indonesia pada November 2026, saham berbobot besar berpotensi memimpin pemulihan pasar.

Namun, jika tekanan pasar terus berlanjut, saham lapis kedua diprediksi tetap lebih tahan secara relatif dibandingkan saham big cap. Faktor pendorong kinerja emiten jenis ini meliputi kewajiban free float minimum yang memperbaiki likuiditas serta peningkatan permintaan domestik.

Di sisi lain, investor perlu mewaspadai sejumlah risiko pemberat bagi emiten lapis kedua. Biaya dana yang tinggi menjadi tantangan utama karena akses pendanaan bagi perusahaan skala kecil cenderung lebih terbatas dibandingkan perusahaan besar.

Likuiditas yang tipis pada saham-saham ini juga berisiko meningkatkan volatilitas harga secara tajam. Selain itu, faktor tata kelola perusahaan (good corporate governance) tetap menjadi variabel krusial yang harus dicermati oleh para pelaku pasar.

Investor disarankan untuk lebih selektif dalam memilih emiten dengan kinerja laba yang nyata serta kondisi neraca keuangan yang sehat. Perusahaan yang mengandalkan pertumbuhan organik dan modal memadai dinilai lebih layak dikoleksi dibandingkan emiten yang hanya mengandalkan narasi ekspansi.

Saham di sektor energi terbarukan, seperti KEEN, menjadi salah satu aset yang patut diperhatikan. Status Green Equity yang diberikan Bursa Efek Indonesia turut memberikan visibilitas dan nilai tambah bagi saham tersebut di mata investor.