Transportasi

KAI Targetkan Proses Inbreng dengan INKA Efektif Awal 2027

47
×

KAI Targetkan Proses Inbreng dengan INKA Efektif Awal 2027

Sebarkan artikel ini
Logo PT Kereta Api Indonesia (KAI) dan PT Industri Kereta Api (INKA) yang bersandingan
PT KAI menargetkan proses integrasi melalui skema inbreng dengan PT INKA efektif mulai awal tahun 2027.

JAKARTA – PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI menargetkan proses konsolidasi dan integrasi dengan PT Industri Kereta Api (Persero) atau INKA akan berlaku efektif mulai 1 Januari 2027. Langkah strategis ini dilakukan melalui skema inbreng atau penyetoran modal saham yang prosesnya telah dimulai sejak September 2026.

Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, menyatakan bahwa inbreng tersebut bersifat bersyarat untuk memastikan integrasi berjalan optimal. Pihak manajemen telah merampungkan proses uji tuntas atau due diligence terhadap seluruh aspek operasional maupun manajerial di INKA.

Integrasi ini bertujuan memperkuat ekosistem perkeretaapian nasional melalui penggabungan fungsi manufaktur dan perawatan. KAI berencana mengintegrasikan Balai Yasa yang selama ini menjadi bengkel pusat KAI dengan fasilitas produksi milik INKA.

Bobby menjelaskan bahwa Balai Yasa memiliki keunggulan dalam aspek rekayasa, sementara INKA fokus pada manufaktur. Penggabungan ini diharapkan mampu menciptakan sinergi operasional yang lebih efisien bagi kedua perusahaan milik negara tersebut.

Saat ini, INKA mengoperasikan pabrik di Madiun dan Banyuwangi yang memiliki spesialisasi produksi rangka bawah dan atas. Jarak geografis antara kedua pabrik tersebut dinilai menyebabkan inefisiensi logistik yang akan segera dibenahi melalui rencana optimasi baru.

KAI juga berencana memanfaatkan Balai Yasa di Lampung dan Sumatra Selatan sebagai pusat produksi INKA di Pulau Sumatra. Langkah ini diambil untuk mendukung operasional KAI yang mencakup wilayah luar Pulau Jawa.

Sebelumnya, KAI sempat menargetkan proses akuisisi melalui inbreng ini dapat ditandatangani pada November 2026. Namun, penyesuaian jadwal dilakukan agar integrasi dapat berjalan secara sistematis sesuai dengan peta jalan yang telah disusun bersama.

Direktur Portofolio Manajemen dan Teknologi Informasi KAI, I Gede Darmayusa, menyebut mandat integrasi telah diberikan oleh Danantara sejak 18 Mei 2026. Kajian tersebut menjadi landasan utama untuk memperkuat kepastian pasokan sarana perkeretaapian nasional.

Kebutuhan sarana KAI dalam lima tahun ke depan telah terpetakan dengan detail. Kebutuhan tersebut mencakup 2.000 gerbong bottom dump, 1.200 gerbong datar, 652 kereta penumpang, serta 30 rangkaian KRL untuk Jabodetabek.

Integrasi ini juga menjadi solusi atas tantangan ketepatan waktu pengiriman dan kualitas sarana yang selama ini dihadapi. Dengan adanya konsolidasi, perencanaan riset dan pengembangan (R&D) serta manufaktur dapat dilakukan dalam jangka panjang.

Di sisi lain, KAI saat ini tengah menghadapi tantangan operasional terkait perawatan armada. KAI Commuter terpaksa melakukan penyesuaian jadwal perjalanan di Jabodetabek akibat penarikan sementara KRL seri iE305 produksi INKA untuk menjalani perawatan intensif.

Selain fokus pada integrasi manufaktur, KAI juga terus melakukan ekspansi jaringan. Perusahaan menargetkan elektrifikasi KRL hingga ke Stasiun Cigombong pada 2027 sebagai tahap awal pengembangan jalur menuju Sukabumi.