Valuta

Rupiah Melemah ke Rp 17.763 per Dolar AS pada Kamis Pagi

31
×

Rupiah Melemah ke Rp 17.763 per Dolar AS pada Kamis Pagi

Sebarkan artikel ini
Tampilan layar grafik pergerakan nilai tukar mata uang Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat
Nilai tukar rupiah melemah ke level Rp 17.763 per dolar AS pada perdagangan Kamis pagi.

JAKARTA – Nilai tukar rupiah di pasar spot mengalami pelemahan pada perdagangan Kamis (17/9/2026) pagi. Mata uang Garuda tercatat berada di level Rp 17.763 per dolar Amerika Serikat (AS) pada pukul 09.09 WIB.

Posisi tersebut menunjukkan koreksi sebesar 0,38% dibandingkan penutupan perdagangan sehari sebelumnya yang berada di level Rp 17.696 per dolar AS. Pelemahan ini terjadi di tengah sentimen ketidakpastian ekonomi global yang masih membayangi pasar keuangan domestik.

Tekanan terhadap mata uang lokal ini sejalan dengan tren pelemahan mayoritas mata uang di kawasan Asia. Sentimen eksternal, termasuk eskalasi konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran, terus memberikan dampak signifikan terhadap pergerakan aset berisiko di pasar berkembang.

Ringgit Malaysia menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia pagi ini, yakni sebesar 0,56%. Won Korea Selatan menyusul dengan koreksi 0,42%, sementara rupiah berada di urutan ketiga dalam daftar mata uang yang paling tertekan.

Dolar Taiwan juga tercatat melemah sebesar 0,26% terhadap dolar AS. Selain itu, baht Thailand terkoreksi 0,14%, peso Filipina turun 0,13%, dan yuan China melemah tipis sebesar 0,04%.

Namun, tidak semua mata uang di kawasan Asia mengalami nasib serupa. Yen Jepang justru mampu menguat 0,06% di tengah dinamika pasar yang fluktuatif.

Dolar Singapura juga mencatatkan penguatan sebesar 0,03%. Sementara itu, dolar Hong Kong terpantau menguat tipis sebesar 0,001% terhadap mata uang Negeri Paman Sam tersebut.

Di sisi lain, indeks dolar AS yang mengukur performa mata uang utama dunia menunjukkan penguatan. Indeks tersebut berada di level 100,32, naik dari posisi sebelumnya yang berada di level 100,25.

Kenaikan indeks dolar ini mencerminkan tingginya permintaan terhadap mata uang AS sebagai aset aman atau safe haven di tengah kondisi geopolitik yang memanas. Para investor cenderung mengalihkan portofolio mereka ke instrumen yang dianggap lebih stabil saat risiko global meningkat.

Kondisi ini menambah beban bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, yang harus bersaing dengan daya tarik dolar AS. Fluktuasi nilai tukar ini diperkirakan masih akan membayangi pasar keuangan hingga terdapat perkembangan baru terkait situasi keamanan internasional.

Pelaku pasar kini menanti langkah lebih lanjut dari otoritas moneter terkait respons terhadap pelemahan nilai tukar. Stabilitas rupiah menjadi fokus utama di tengah tekanan eksternal yang terus menekan daya beli mata uang domestik di pasar global.

Secara keseluruhan, sentimen pasar hari ini masih didominasi oleh kekhawatiran terhadap dampak konflik geopolitik. Investor diimbau untuk tetap waspada dalam melakukan transaksi di tengah volatilitas yang masih cukup tinggi.