WASHINGTON – Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) resmi menaikkan suku bunga acuan federal (federal funds rate) sebesar 25 basis poin menjadi kisaran 3,75 persen hingga 4 persen. Keputusan ini diambil dalam pertemuan yang berakhir pada Kamis, 17 September 2026, sebagai upaya menekan laju inflasi yang masih persisten di atas target 2 persen.
Ketua The Fed, Kevin Warsh, menyatakan bahwa kebijakan ini diambil karena inflasi dinilai masih terlalu tinggi dalam kurun waktu yang cukup lama. Meskipun aktivitas ekonomi AS menunjukkan ketangguhan dengan pertumbuhan produktivitas yang kuat, bank sentral tetap memprioritaskan stabilitas harga.
Warsh menekankan bahwa kondisi ekonomi Amerika saat ini sedang menguat, didorong oleh peningkatan rekrutmen tenaga kerja dan investasi modal dunia usaha. Namun, ia menilai kondisi keuangan secara luas belum cukup restriktif untuk mendinginkan tekanan harga.
Langkah kenaikan suku bunga ini bertujuan untuk mencabut sebagian dosis akomodasi moneter yang selama ini diberikan. Keputusan tersebut diambil setelah data inflasi musim panas menunjukkan tren yang belum membaik secara signifikan.
Berdasarkan data terbaru, indeks harga PCE total diperkirakan berada di angka 3,6 persen untuk periode Agustus. Sementara itu, inflasi inti PCE dan CPI masing-masing tercatat di angka 3,2 persen dan 2,4 persen.
Banyak kategori harga di sektor ekonomi masih mencatatkan kenaikan di atas 3 persen secara tahunan. Warsh juga menyoroti kenaikan harga komoditas input utama yang terus dipantau oleh otoritas moneter.
Dalam Ringkasan Proyeksi Ekonomi yang dirilis bersamaan, PDB riil AS diproyeksikan tumbuh 2,3 persen pada tahun ini dan 2,4 persen pada tahun depan. Tingkat pengangguran diperkirakan tetap stabil di kisaran 4,1 persen.
Para partisipan FOMC memproyeksikan suku bunga acuan akan berada di level 4,1 persen hingga akhir tahun ini. Angka tersebut diperkirakan akan bertahan di level yang sama sepanjang tahun depan.
Warsh menegaskan bahwa standar untuk menghentikan kenaikan suku bunga belum terpenuhi sepenuhnya. The Fed menuntut keyakinan bahwa inflasi mendasar benar-benar bergerak menuju sasaran 2 persen dengan kecepatan yang memadai.
Pasar bereaksi terhadap sikap hawkish ini, dengan imbal hasil obligasi Treasury jangka pendek yang cenderung meningkat. Selain itu, aset kripto seperti Bitcoin sempat mengalami tekanan hingga berada di bawah level 80.000 dolar AS.
The Fed menyatakan komitmennya untuk memastikan ekspektasi inflasi tetap terjangkar dengan baik. Otoritas moneter berupaya menjaga keseimbangan antara mandat kesempatan kerja penuh dan stabilitas harga.
Secara global, tekanan harga serupa juga dialami oleh banyak negara maju lainnya. Namun, The Fed tetap mengambil kebijakan berdasarkan penilaian internal terhadap kondisi domestik Amerika Serikat.
Warsh menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa stabilitas harga sangat vital bagi ekspansi ekonomi jangka panjang. Ia menyatakan bahwa masyarakat yang paling rentan justru akan mendapatkan manfaat terbesar dari harga yang stabil dan pasar tenaga kerja yang solid.






