JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan terus mengalami tekanan jangka pendek menyusul antisipasi pasar terhadap keputusan kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed), pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) yang berakhir hari ini, Rabu (16/9/2026).
IHSG tercatat melemah 0,38% ke level 6.436,85 menjelang penutupan rapat FOMC tersebut. Dalam akumulasi lima hari perdagangan terakhir, indeks domestik telah mengalami koreksi yang cukup dalam mencapai 3,61%.
Potensi kenaikan suku bunga acuan AS menjadi faktor utama yang membayangi sentimen investor global dan domestik. Berdasarkan data CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan kali ini telah menyentuh angka 92,5%.
Head of Equity Research J.P. Morgan Indonesia, Benny Kurniawan, menyatakan bahwa kebijakan moneter yang lebih agresif dari The Fed kemungkinan besar akan menjadi hambatan bagi kinerja saham-saham di Indonesia. Tekanan terhadap pasar saham domestik diprediksi masih akan berlanjut dalam waktu dekat.
Kendati demikian, Benny menambahkan bahwa prospek pasar modal dalam jangka menengah hingga panjang tetap akan sangat bergantung pada kombinasi kondisi ekonomi global serta fundamental ekonomi domestik. Ketahanan ekonomi Indonesia menjadi kunci untuk meredam volatilitas dari sentimen eksternal.
Dampak kebijakan moneter AS tidak hanya terasa pada pasar ekuitas, tetapi juga menekan mata uang Garuda. Pada perdagangan Rabu (16/9), nilai tukar rupiah di pasar spot melemah tipis 0,01% ke level Rp 17.696 per dolar AS.
Pelemahan rupiah tersebut sekaligus menandai tren negatif selama lima hari perdagangan berturut-turut. Kondisi ini mencerminkan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap arus keluar modal asing dari negara-negara berkembang akibat daya tarik imbal hasil aset AS yang lebih tinggi.
Sentimen pasar juga dipengaruhi oleh sinyal hawkish yang sempat dilontarkan Ketua The Fed, Kevin Warsh, dalam Simposium Ekonomi Jackson Hole beberapa waktu lalu. Pernyataan tersebut memperkuat ekspektasi pasar bahwa bank sentral AS akan tetap memprioritaskan pengendalian inflasi melalui pengetatan suku bunga.
Selain tekanan eksternal, dinamika domestik turut memengaruhi pergerakan pasar. Isu ketidakpastian kebijakan cukai setelah adanya perombakan posisi Menteri Keuangan juga disebut-sebut memberikan tekanan pada sektor saham tertentu, terutama emiten rokok.
Sementara itu, di pasar obligasi, pergerakan yield Surat Berharga Negara (SBN) terpantau bervariasi. Data Bloomberg per Rabu (16/9) pukul 16:15 WIB menunjukkan yield SBN tenor 10 tahun turun 1,3 basis poin ke level 7,14%.
Pada saat yang sama, yield SBN tenor 5 tahun juga mencatatkan penurunan sebesar 2,7 basis poin menjadi 6,97%. Penurunan yield ini mencerminkan adanya aksi beli oleh investor di pasar surat utang di tengah ketidakpastian pasar saham.
Secara regional, bursa Asia secara keseluruhan cenderung melemah dalam merespons prospek kenaikan suku bunga global. Investor saat ini masih mencermati risalah pertemuan FOMC dan data ekonomi lanjutan untuk menentukan arah investasi di tengah sentimen pasar yang masih dipenuhi kekhawatiran.






