Bursa Saham

Karya Pacific Energy Siap Lunasi Surat Utang Senilai Rp199,12 Miliar

29
×

Karya Pacific Energy Siap Lunasi Surat Utang Senilai Rp199,12 Miliar

Sebarkan artikel ini
Gedung perkantoran PT Karya Pacific Energy Tbk di Jakarta
PT Karya Pacific Energy Tbk menyiapkan dana Rp199,12 miliar untuk melunasi surat utang yang jatuh tempo bulan depan.

JAKARTA – PT Karya Pacific Energy Tbk (IATA) telah mengonfirmasi kesiapan dana operasional untuk melunasi kewajiban pokok surat utang yang akan jatuh tempo pada bulan depan. Total nilai dana yang disiapkan mencapai Rp 199,12 miliar.

Dana tersebut dialokasikan untuk melunasi dua instrumen keuangan sekaligus. Keduanya adalah Obligasi Berkelanjutan I MNC Energy Investments Tahap I Tahun 2023 Seri B dan Sukuk Wakalah Berkelanjutan I MNC Energy Investments Tahap I Tahun 2023 Seri B.

Presiden Direktur IATA, Suryo Eko Hadianto, merinci nilai pelunasan untuk masing-masing instrumen. Untuk obligasi, perusahaan menyiapkan dana sebesar Rp 149,82 miliar.

Sementara itu, untuk instrumen sukuk wakalah, nilai pelunasan yang telah disiapkan mencapai Rp 49,3 miliar. Kedua instrumen tersebut dijadwalkan jatuh tempo pada 6 Oktober 2026.

Penyampaian informasi ini merupakan bagian dari pemenuhan kewajiban keterbukaan informasi perusahaan kepada otoritas pasar modal. Langkah ini merujuk pada Peraturan Nomor I-E terkait Kewajiban Penyampaian Informasi yang ditetapkan oleh PT Bursa Efek Indonesia (BEI).

Pemberitahuan tersebut secara resmi telah disampaikan melalui surat bernomor 253-BEI/IATA-CSL/IX/2026 kepada pihak Bursa Efek Indonesia pada Selasa (15/9/2026). Kesiapan dana ini menjadi langkah strategis emiten di tengah dinamika pasar keuangan nasional yang sedang menyoroti berbagai sentimen ekonomi.

Di sisi lain, pasar keuangan Indonesia saat ini tengah berada dalam fase penyesuaian terhadap berbagai indikator makro. Harga emas dunia, misalnya, tercatat kembali melemah pada perdagangan Selasa (15/9/2026), meskipun prospek harga emas domestik seperti Antam dinilai masih memiliki ruang untuk bertahan hingga akhir tahun 2026.

Sentimen pasar juga dipengaruhi oleh proyeksi pergerakan nilai tukar rupiah yang berpeluang melemah pada Rabu (16/9). Tekanan tersebut dipicu oleh antisipasi pasar terhadap keputusan kebijakan moneter The Fed serta fluktuasi harga minyak global yang masih tinggi.

Dalam cakupan yang lebih luas, sektor komoditas Indonesia juga tengah bersiap menghadapi babak baru. Pemerintah dijadwalkan meresmikan bursa komoditas baru, ICOMEX, pada 4 Januari 2027 mendatang.

Bursa baru tersebut direncanakan langsung mengoperasikan transaksi perdana untuk komoditas timah dan feronikel. Kehadiran ICOMEX diharapkan mampu memberikan nilai tambah bagi ekosistem perdagangan komoditas nasional di masa depan.

Bagi IATA, ketepatan waktu dalam pemenuhan kewajiban surat utang ini menjadi krusial untuk menjaga kepercayaan investor. Hal ini selaras dengan upaya perusahaan dalam menjaga stabilitas keuangan di tengah kondisi ekonomi yang menantang.

Kesiapan pendanaan ini sekaligus menegaskan komitmen manajemen dalam mematuhi regulasi pasar modal yang berlaku. Perusahaan memastikan seluruh proses administrasi pelunasan akan diselesaikan sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan.