Bursa Saham

Wall Street Melemah Akibat Kekhawatiran Pengembangan Kecerdasan Buatan

24
×

Wall Street Melemah Akibat Kekhawatiran Pengembangan Kecerdasan Buatan

Sebarkan artikel ini
Papan layar elektronik yang menampilkan pergerakan indeks saham Wall Street di New York
Indeks utama Wall Street melemah akibat aksi jual masif pada saham sektor teknologi.

NEW YORK – Indeks utama Wall Street ditutup melemah pada perdagangan Senin (14/9/2026) akibat aksi jual masif pada saham sektor teknologi, khususnya produsen chip kecerdasan buatan (AI). Sentimen negatif ini dipicu oleh pernyataan para eksekutif puncak perusahaan AI yang menyerukan perlambatan pengembangan teknologi tersebut karena alasan keselamatan.

Indeks S&P 500 mencatatkan penurunan sebesar 0,48% ke level 7.619,94. Sementara itu, indeks Nasdaq Composite terkoreksi 0,56% menjadi 26.186,41 poin dan Dow Jones Industrial Average turun 0,29% ke posisi 52.421,17.

Sektor teknologi informasi menjadi pemberat utama pasar dengan pelemahan sebesar 1,68%. Sektor industri juga menyusul dengan penurunan sebesar 1,44% di tengah kekhawatiran meluasnya dampak regulasi AI.

Saham Nvidia memimpin pelemahan di sektor chip dengan koreksi sebesar 3,4%. Micron Technology mencatatkan kerugian lebih dari 5%, sementara Broadcom dan Advanced Micro Devices (AMD) masing-masing anjlok lebih dari 4%.

Indeks saham PHLX yang mewakili sektor semikonduktor merosot tajam sebesar 5,9%. Meski sempat mencatatkan kenaikan signifikan sepanjang tahun, volatilitas terbaru ini memangkas performa tahunan indeks tersebut menjadi 57%.

Tekanan terhadap pasar saham semakin berat seiring dengan lonjakan imbal hasil obligasi Treasury 10 tahun yang sempat melampaui ambang batas psikologis 5%. Ini merupakan level tertinggi sejak 2023, yang memicu kekhawatiran akan peningkatan biaya pinjaman bagi perusahaan dan pemerintah.

Investor saat ini tengah bersiap menghadapi pertemuan Federal Reserve yang dijadwalkan berlangsung pekan ini. Pasar memperkirakan probabilitas 90% bahwa bank sentral AS akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin untuk meredam inflasi.

Kenaikan suku bunga tersebut diproyeksikan akan merespons harga minyak mentah yang terus merangkak naik. Harga minyak Brent ditutup menguat 1% ke level US$ 105,68 per barel akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan ancaman pasokan energi global.

Analis pasar mencatat bahwa tingkat imbal hasil obligasi di atas 5% merupakan sinyal peringatan bagi pasar ekuitas. Kondisi ini dapat mengurangi daya tarik saham sebagai aset investasi dibandingkan dengan obligasi pemerintah yang menawarkan imbal hasil lebih stabil.

Di sisi lain, beberapa saham perangkat lunak seperti ServiceNow, Adobe, dan Workday justru menunjukkan penguatan di kisaran 4% hingga 7,4%. Namun, kenaikan ini dinilai bersifat sementara di tengah kekhawatiran margin keuntungan yang tergerus oleh persaingan ketat di industri AI.

Total volume perdagangan di bursa AS tercatat mencapai 15,3 miliar saham pada sesi Senin. Angka ini berada di atas rata-rata volume perdagangan 20 hari terakhir yang tercatat sebesar 14,8 miliar saham.

Para pelaku pasar kini menantikan arahan kebijakan dari Federal Reserve terkait langkah fiskal jangka panjang. Ketidakpastian arah ekonomi AS menjadi faktor utama yang membatasi pergerakan pasar di tengah upaya menyeimbangkan inovasi teknologi dengan stabilitas makroekonomi.