Bursa Saham

Bursa Asia Tertekan, Nikkei Jepang Menguat di Tengah Sentimen Suku Bunga

50
×

Bursa Asia Tertekan, Nikkei Jepang Menguat di Tengah Sentimen Suku Bunga

Sebarkan artikel ini
Papan layar elektronik menampilkan grafik pergerakan indeks saham bursa Asia yang mayoritas berwarna merah
Mayoritas indeks bursa saham Asia Pasifik melemah akibat kekhawatiran suku bunga dan aksi jual sektor AI.

JAKARTA – Mayoritas indeks bursa saham di kawasan Asia Pasifik melemah pada perdagangan Selasa (15/9/2026). Sentimen negatif dipicu oleh kekhawatiran kenaikan suku bunga Bank of Japan (BOJ) serta aksi jual masif pada saham-saham sektor kecerdasan buatan (AI).

Di pasar domestik, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turut tertekan dengan koreksi sebesar 0,87% ke level 6.477 pada sesi perdagangan pukul 11.37 WIB. Penurunan ini mencerminkan sentimen negatif yang melanda bursa regional secara luas.

Berbeda dengan tren regional, indeks Nikkei Jepang justru mencatatkan penguatan tipis sebesar 0,29% ke level 63.678. Pasar merespons positif ekspektasi keputusan BOJ yang diproyeksikan akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 1,25% pada 18 September mendatang.

Sementara itu, bursa Asia lainnya mayoritas berada di zona merah. Indeks Hang Seng melemah 0,4% ke level 24.817, sementara Kospi Korea Selatan terkoreksi 0,54% ke level 6.648. Indeks Shanghai Composite juga mencatatkan pelemahan tipis sebesar 0,1% ke level 3.881,41.

Head of Research and Chief Economist Mirae Asset Sekuritas, Rully, menyoroti adanya sinyal hawkish dari bank sentral negara maju seperti BOJ, European Central Bank (ECB), dan Bank of England (BOE). Kebijakan ini dinilai dapat menahan penguatan dolar AS yang selama ini membebani pasar negara berkembang.

Rully menyatakan bahwa jika bank sentral negara maju kompak menaikkan suku bunga bersamaan dengan The Fed, maka apresiasi dolar AS berpotensi menjadi lebih terbatas. Kondisi ini diharapkan dapat memberikan stabilitas bagi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Meskipun demikian, pasar tetap mewaspadai kebijakan The Fed pada pertemuan mendatang. Jika The Fed kembali bersikap agresif, tekanan terhadap rupiah berpotensi meningkat, yang kemudian dapat mendorong Bank Indonesia untuk menyesuaikan suku bunga acuan ke level 6%.

Selain faktor moneter, tekanan di bursa Asia diperburuk oleh aksi jual saham sektor AI yang terjadi secara global. Kepercayaan investor terguncang setelah para pemimpin industri AI memperingatkan adanya risiko teknologi tersebut bagi keberlangsungan hidup manusia.

Peringatan dari tokoh seperti CEO Anthropic Dario Amodei, Elon Musk, dan Sam Altman mengenai perlunya melambatkan pengembangan model AI memicu kekhawatiran pasar. Sentimen ini berdampak langsung pada saham raksasa teknologi.

Pada perdagangan sebelumnya, Nvidia mencatat penurunan 3%, sementara Broadcom dan Advanced Micro Devices masing-masing merosot lebih dari 4%. Intel juga tertekan dengan pelemahan 5%, diikuti oleh Marvell Technology yang anjlok lebih dari 7%.

Kondisi ini diperparah oleh biaya pinjaman global yang terus meningkat seiring dengan tingginya imbal hasil obligasi pemerintah. Investor kini semakin berhati-hati terhadap perusahaan AI yang sangat bergantung pada pembiayaan utang untuk mendanai belanja infrastruktur yang agresif.