JAKARTA – PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) dikabarkan tengah menjajaki rencana penerbitan depositary receipts di bursa Hong Kong sebagai strategi alternatif untuk menghimpun modal tambahan. Langkah ini diambil perusahaan di tengah upaya memperluas akses pendanaan internasional bagi pengembangan bisnis material baterai.
Informasi ini muncul di tengah tren perusahaan tambang Indonesia yang mulai melirik pasar modal Hong Kong. Sumber yang mengetahui rencana tersebut menyatakan bahwa besaran dana serta jadwal pelaksanaan penawaran masih dalam tahap pembahasan internal.
Hingga saat ini, belum ada kepastian mengenai realisasi transaksi tersebut. Pihak manajemen Merdeka Battery belum memberikan tanggapan resmi terkait rencana ekspansi pendanaan di pasar luar negeri ini.
Langkah MBMA ini mencerminkan dinamika pasar modal Indonesia yang tengah menghadapi tantangan likuiditas. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat mengalami tekanan signifikan dengan pelemahan 23% sepanjang tahun berjalan.
Kondisi tersebut menjadikan IHSG sebagai salah satu indeks dengan kinerja terlemah di kawasan Asia-Pasifik. Hal ini mendorong emiten untuk mencari alternatif pendanaan di pusat keuangan global seperti Hong Kong guna menjaga stabilitas arus kas.
Sebelumnya, PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS), yang juga merupakan bagian dari grup Merdeka Copper Gold, telah sukses menghimpun dana sebesar HK$2,4 miliar atau setara US$306 juta melalui mekanisme serupa pada Juni lalu. Selain itu, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) juga dilaporkan tengah mengkaji opsi pencatatan saham di bursa yang sama.
Secara operasional, MBMA memposisikan diri sebagai salah satu produsen nikel utama di Indonesia. Perusahaan mengoperasikan tambang dan fasilitas pengolahan strategis yang berpusat di Pulau Sulawesi.
Namun, kinerja saham perusahaan di pasar domestik mengalami tekanan sepanjang tahun 2026. Harga saham MBMA tercatat terkoreksi sekitar 10,5% akibat sentimen negatif dari penurunan harga logam global.
Selain faktor harga komoditas, perusahaan juga menghadapi tantangan operasional berupa lonjakan biaya sulfur. Sulfur merupakan elemen krusial dalam proses produksi nikel kelas baterai yang menjadi inti bisnis perusahaan.
Saat ini, kapitalisasi pasar Merdeka Battery berada di kisaran US$3,1 miliar. Upaya penggalangan dana di Hong Kong dipandang analis sebagai langkah strategis untuk memperkuat struktur permodalan di tengah fluktuasi biaya produksi.
Minat perusahaan terhadap bursa Hong Kong sejalan dengan fenomena serupa yang dilakukan perusahaan material baterai asal China, seperti Hunan Yuneng New Energy. Perusahaan tersebut baru saja mengajukan dokumen pencatatan di bursa Hong Kong demi mendapatkan pendanaan skala besar.
Aktivitas ini menunjukkan bahwa pasar modal Hong Kong tetap menjadi destinasi utama bagi perusahaan sektor energi dan baterai untuk memobilisasi modal. MBMA diperkirakan akan terus memantau kondisi pasar sebelum mengambil keputusan final terkait rencana aksi korporasi tersebut.






