Valuta

Indeks Dolar AS Melandai, Simak Prospek Rupiah dan Mata Uang Asia

44
×

Indeks Dolar AS Melandai, Simak Prospek Rupiah dan Mata Uang Asia

Sebarkan artikel ini
Tampilan layar data perdagangan valuta asing yang menunjukkan pelemahan Indeks Dolar AS di bawah level 100.
Indeks Dolar AS melemah ke level 98,993 yang memicu variasi pergerakan pada berbagai mata uang di kawasan Asia.

JAKARTA – Penguatan mata uang di kawasan Asia diprediksi akan berlanjut secara bertahap hingga akhir tahun 2026. Tren ini didorong oleh pelemahan Indeks Dolar AS (DXY) yang kini berada di bawah level 100.

Data Trading Economics pada Rabu (26/8/2026) pukul 16.34 WIB mencatat Indeks Dolar AS berada di level 98,993. Kondisi ini memicu variasi pergerakan valas Asia, di mana USD/JPY berada di 158,985, USD/KRW di 1.385,52, USD/IDR di 17.728,9, serta USD/CNY di 6,72031.

Pelemahan dolar AS dipicu oleh perubahan signifikan pada lanskap likuiditas dan kebijakan fiskal-moneter di Amerika Serikat. Departemen Keuangan AS secara efektif melakukan injeksi likuiditas melalui peningkatan program pembelian kembali (buyback) obligasi tenor panjang.

Program tersebut ditingkatkan dari US$ 2 miliar menjadi minimal US$ 4 miliar per operasi. Langkah ini berhasil menahan lonjakan imbal hasil atau yield obligasi US Treasury tenor 10 tahun.

Selain itu, koordinasi intervensi valas antara Amerika Serikat dan Jepang untuk membendung depresiasi yen memberikan sinyal kuat bahwa otoritas AS tidak menghendaki dolar yang terlalu perkasa. Hal ini memicu arus repatriasi modal kembali ke pasar negara berkembang (emerging markets) di Asia.

Kawasan Asia kini melihat penyempitan jurang imbal hasil yang menarik bagi para investor. Won Korea (KRW) memimpin reli penguatan karena derasnya arus masuk modal ke sektor teknologi, semikonduktor, dan manufaktur.

Di Indonesia, langkah stabilisasi oleh Bank Indonesia (BI) dinilai efektif dalam membatasi spekulasi pelemahan nilai tukar. Rupiah berhasil dijaga agar tetap stabil di bawah level psikologis Rp 17.700 per dolar AS.

Hingga akhir tahun 2026, Indeks Dolar AS diestimasi bergerak dalam tren melemah moderat pada kisaran 95,50 hingga 98,50. Penurunan ini didorong oleh berkurangnya permintaan dolar sebagai instrumen berimbal hasil tinggi.

Won Korea menjadi pilihan mata uang paling menarik karena sifatnya yang high-beta terhadap siklus teknologi dan kecerdasan buatan. Sementara itu, Yen Jepang tetap menjadi aset safe haven yang menjanjikan.

Rupiah dipandang prospektif bagi investor yang mencari imbal hasil melalui instrumen SRBI dan SBN. Penguatan rupiah menuju kisaran Rp 17.500 hingga Rp 17.600 dianggap sebagai momentum ideal bagi investor untuk mengunci imbal hasil tinggi.

Proyeksi hingga akhir tahun, rupiah diperkirakan bergerak stabil pada rentang Rp 17.000 hingga Rp 17.650 dengan batas resistensi teknikal di Rp 17.850. Sementara itu, USD/KRW berpotensi menguat ke kisaran 1.200-1.370.

USD/JPY diperkirakan bergerak melandai menuju rentang 150,00-154,00 seiring normalisasi kebijakan moneter Bank of Japan. Investor disarankan menggunakan strategi buy on weakness pada mata uang berbasis ekspor seperti KRW atau mengakumulasi JPY.