Valuta

Rupiah Menguat ke Rp17.694 per Dolar AS, Simak Proyeksi Pekan Depan

88
×

Rupiah Menguat ke Rp17.694 per Dolar AS, Simak Proyeksi Pekan Depan

Sebarkan artikel ini
Grafik pergerakan nilai tukar mata uang Rupiah terhadap Dolar AS di pasar spot
Nilai tukar rupiah ditutup menguat ke level Rp17.694 per dolar AS pada perdagangan Jumat (21/8/2026).

JAKARTA – Nilai tukar rupiah di pasar spot menutup perdagangan akhir pekan, Jumat (21/8/2026), dengan penguatan signifikan sebesar 0,3% ke level Rp 17.694 per dolar Amerika Serikat (AS). Secara akumulatif dalam sepekan, mata uang Garuda berhasil mencatatkan apresiasi sebesar 0,75% dibandingkan posisi pekan lalu di level Rp 17.827 per dolar AS.

Tren positif juga terpantau pada kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor). Nilai tukar rupiah Jisdor menguat 0,42% secara harian ke posisi Rp 17.705 per dolar AS, sekaligus mencatatkan penguatan mingguan sebesar 0,73%.

Katalis utama penguatan rupiah berasal dari langkah Departemen Keuangan AS yang meningkatkan program pembelian kembali (buyback) surat utang pemerintah atau US Treasury. Kebijakan untuk melipatgandakan pembelian kembali Treasury berjangka panjang menjadi minimal US$ 4 miliar per operasi tersebut terbukti efektif menekan imbal hasil obligasi AS.

Ibrahim Assuaibi, pengamat mata uang dan komoditas, menyatakan bahwa langkah tersebut diambil karena pemerintah AS menilai tingkat imbal hasil saat ini belum mencerminkan fundamental ekonomi yang sebenarnya. Penurunan imbal hasil US Treasury ini secara otomatis memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, untuk menguat.

Selain faktor eksternal, dinamika pasar tenaga kerja AS turut menjadi sorotan utama pelaku pasar. Data klaim tunjangan pengangguran mingguan yang menurun mengindikasikan stabilitas pasar tenaga kerja yang terjaga, meskipun sempat terjadi penurunan lapangan kerja yang tidak terduga pada Juli lalu.

Kondisi tersebut menempatkan bank sentral AS, The Fed, dalam posisi yang tetap fokus pada pengendalian inflasi. Saat ini, pasar global masih terus melakukan spekulasi mengenai waktu yang tepat bagi The Fed untuk melakukan perubahan kebijakan suku bunga acuan ke depan.

Di sisi geopolitik, ketegangan yang melibatkan Iran masih membayangi sentimen pasar internasional. Ketidakpastian ini diperparah dengan berakhirnya kesepakatan damai pada pekan ini tanpa adanya kelanjutan perundingan dari pihak-pihak terkait.

Sementara itu, dari dalam negeri, perhatian pelaku pasar tertuju pada pelebaran defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD). Bank Indonesia mencatat CAD pada kuartal II-2026 mencapai US$ 12,5 miliar atau setara dengan 3,3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Pelebaran defisit ini melonjak dibandingkan kuartal sebelumnya yang tercatat sebesar US$ 3,6 miliar atau 1,0% dari PDB. Peningkatan ini dipicu oleh defisit neraca perdagangan migas akibat tingginya harga minyak dunia serta lonjakan impor nonmigas untuk kebutuhan domestik.

Risiko inflasi pangan akibat fenomena El Nino juga menjadi catatan penting bagi perekonomian nasional. Potensi kekeringan berkepanjangan dikhawatirkan dapat menekan produksi pertanian dan mengurangi pasokan komoditas pangan pokok, yang berisiko menggerus daya beli masyarakat.

Mempertimbangkan berbagai sentimen domestik dan global tersebut, rupiah diproyeksikan akan bergerak pada rentang Rp 17.600 hingga Rp 17.900 per dolar AS pada perdagangan pekan depan. Pelaku pasar diharapkan tetap mencermati data ekonomi terbaru dari AS yang akan menjadi penentu arah kebijakan moneter ke depan.