JAKARTA – PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) diproyeksikan akan mencatatkan pemulihan kinerja pada semester II-2026, meskipun sempat mengalami tekanan operasional sepanjang kuartal II-2026. Indo Premier Sekuritas tetap mempertahankan rekomendasi beli untuk saham JPFA dengan target harga di level Rp 3.400 per lembar.
Optimisme ini didorong oleh ekspektasi perbaikan harga ayam broiler dan day-old chick (DOC) di pasar. Selain itu, implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang kembali berjalan dinilai akan menjadi katalis positif bagi permintaan produk unggas.
Kinerja perseroan pada kuartal II-2026 memang sempat tertekan akibat pelemahan harga komoditas unggas. Laba bersih yang dibukukan mencapai Rp 659 miliar, atau hanya memenuhi 16% dari proyeksi Indo Premier Sekuritas.
Realisasi tersebut tercatat lebih rendah dibandingkan rata-rata historis tiga tahun sebesar 21%. Tekanan utama berasal dari segmen DOC yang harganya turun 24,6% dan harga broiler yang terkoreksi 16,2% secara kuartalan.
Margin EBIT pada segmen broiler bahkan sempat menyentuh angka negatif sebesar -6,5%. Kondisi ini dipicu oleh harga jual rata-rata broiler yang berada di angka Rp 18.900 per kilogram, sementara titik impas operasional berada di kisaran Rp 19.100 per kilogram.
Segmen pakan ternak juga menghadapi tantangan biaya input yang meningkat. Margin EBIT segmen ini turun tipis menjadi 9,5% akibat kenaikan harga bahan baku soybean meal (SBM) sebesar 9% secara kuartalan.
Namun, secara kumulatif pada semester I-2026, kinerja Japfa masih menunjukkan performa di atas ekspektasi. Laba bersih perusahaan tercatat mencapai Rp 2,5 triliun, melonjak 100% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Pendapatan perseroan pada semester I-2026 mencapai Rp 35,4 triliun, tumbuh 28,7% secara tahunan. Gross profit margin (GPM) juga tercatat meningkat menjadi 14% dibandingkan periode sebelumnya.
Di sisi lain, segmen makanan olahan justru mencatatkan perbaikan kinerja dengan margin EBIT naik menjadi 6,1%. Penurunan harga bahan baku broiler memberikan keuntungan bagi efisiensi biaya di segmen hilir ini.
Analis menilai bahwa koreksi harga saham JPFA sebesar 15% dalam tiga bulan terakhir sudah mencerminkan sentimen negatif pada kuartal II. Pemulihan pada semester kedua diharapkan mampu memicu penguatan harga saham kembali.
Investor tetap diminta untuk memperhatikan sejumlah risiko operasional di masa depan. Faktor-faktor seperti dampak cuaca El NiƱo, fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, serta ketidakpastian harga DOC tetap menjadi perhatian utama.
Hingga perdagangan Jumat (21/8/2026), saham JPFA ditutup di level Rp 2.210 per saham. Target harga Rp 3.400 yang ditetapkan didasarkan pada valuasi price to earning ratio (PE) 9,5 kali untuk tahun 2026.






