Perbankan

Tiga Bank Himbara Restrukturisasi Utang Adhi Karya Rp3 Triliun

95
×

Tiga Bank Himbara Restrukturisasi Utang Adhi Karya Rp3 Triliun

Sebarkan artikel ini
Penandatanganan Master Restructuring Agreement restrukturisasi utang Adhi Karya bersama tiga bank Himbara
Adhi Karya resmi melakukan restrukturisasi utang senilai Rp3 triliun bersama tiga bank Himbara.

JAKARTA – PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) resmi melakukan restrukturisasi utang senilai Rp3 triliun melalui penandatanganan Master Restructuring Agreement (MRA) dengan tiga bank Himpunan Bank Milik Negara (Himbara). Kesepakatan yang diteken pada 18 September 2026 ini melibatkan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk sebagai kreditur.

Direktur Keuangan Adhi Karya, Bani Iqbal, menjelaskan bahwa langkah ini merupakan upaya strategis perseroan dalam menata kembali struktur keuangan perusahaan. Restrukturisasi dilakukan guna mendorong transformasi bisnis sekaligus memperbaiki kinerja operasional dan finansial perusahaan ke depan.

Skema restrukturisasi utang ini dibagi menjadi tiga kelompok pembayaran atau tranche. Tranche A berupa pinjaman term loan sebesar Rp1,54 triliun dengan tenor 15 tahun menggunakan skema balloon payment.

Fasilitas tranche A memiliki tingkat bunga 3,5% per tahun. Sebanyak 1% dibayarkan secara tunai setiap tiga bulan, sementara 2,5% sisanya ditangguhkan hingga tahun 2041.

Selanjutnya, tranche B mencakup pinjaman senilai Rp1,45 triliun yang akan diselesaikan dalam jangka waktu lima tahun. Pembayaran dilakukan melalui skema bullet payment yang bersumber dari hasil divestasi aset perseroan dengan bunga 1% per tahun.

Sementara itu, tranche C dikhususkan untuk kewajiban bunga atau bagi hasil yang terakumulasi sejak tanggal persetujuan standstill hingga tanggal efektif. Kewajiban tersebut akan dicicil selama 18 bulan tanpa dikenakan bunga atau bagi hasil tambahan.

Direktur Utama Adhi Karya, Moeharmein Zein Chaniago, menyatakan bahwa penandatanganan MRA ini menjadi tahap awal implementasi yang membutuhkan komitmen penuh dari seluruh pihak. Ia optimistis sinergi dengan perbankan BUMN dapat membangun fundamental bisnis yang lebih sehat dan berkelanjutan.

Di tengah upaya restrukturisasi, ADHI tetap memfokuskan bisnis pada sektor inti engineering dan konstruksi. Perusahaan juga melakukan perampingan organisasi serta meningkatkan efisiensi operasional berbasis teknologi untuk memperkuat pengelolaan keuangan.

Manajemen memastikan seluruh kegiatan operasional dan pengerjaan proyek strategis berjalan normal. Hal ini dilakukan untuk menjaga keberlangsungan usaha serta memenuhi tanggung jawab penyelesaian proyek kepada para mitra.

Langkah penataan utang ini dinilai krusial di tengah tantangan sektor konstruksi BUMN yang saat ini tengah mendapat sorotan. Sebelumnya, emiten konstruksi lain seperti PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT) juga berhasil menuntaskan proses restrukturisasi serupa melalui Rapat Umum Pemegang Obligasi pada awal September 2026.

Di sisi lain, kinerja operasional Adhi Karya menunjukkan tren positif dengan perolehan kontrak baru sebesar Rp8,3 triliun hingga Juli 2026. Angka tersebut mencatatkan kenaikan signifikan sebesar 118,4% secara year-on-year dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Kondisi makro ekonomi saat ini yang diwarnai fluktuasi nilai tukar rupiah dan kenaikan imbal hasil obligasi AS menjadi perhatian bagi emiten sektor konstruksi. Namun, Adhi Karya berkomitmen menjaga transparansi serta komunikasi berkelanjutan dengan seluruh pemangku kepentingan dalam menjalankan amanat restrukturisasi tersebut.