Jakarta – Dua direktur PT Ketrosden Triasmitra Tbk (KETR) mencatatkan keuntungan investasi yang signifikan setelah melakukan pembelian saham perusahaan dengan harga diskon besar-besaran. Aksi korporasi ini memungkinkan para direksi meraih capital gain yang belum terealisasi sebesar 367,5% dalam hitungan hari.
Direktur KETR, Dani Samsul Ependi, tercatat menambah kepemilikan sahamnya dengan membeli 48,3 juta lembar saham dari pemegang saham pengendali, PT Fajar Sejahtera Mandiri Nusantara. Transaksi tersebut dieksekusi pada 17 September 2026.
Berdasarkan laporan transaksi, Dani membeli 48.301.257 lembar saham dengan harga Rp200 per saham. Nilai keseluruhan transaksi tersebut mencapai sekitar Rp9,66 miliar.
Sebelum transaksi ini berlangsung, Dani tidak memiliki kepemilikan saham di perusahaan infrastruktur jaringan serat optik tersebut. Kini, ia menguasai 1,70% hak suara perusahaan.
Langkah serupa juga diambil oleh direktur lainnya, Vidcy Octory, pada 14 September 2026. Vidcy membeli jumlah saham yang identik, yakni 48.301.257 lembar, dengan harga yang sama yakni Rp200 per saham.
Kedua transaksi ini dilakukan melalui mekanisme pembelian langsung dari Fajar Sejahtera Mandiri Nusantara. Perusahaan tersebut merupakan pengendali utama KETR dengan porsi kepemilikan saham di atas 50%.
Aksi divestasi oleh Fajar Sejahtera Mandiri Nusantara ini berdampak pada perubahan komposisi kepemilikan saham perusahaan. Sebelumnya, Fajar Sejahtera menguasai 1.557.864.674 saham atau 54,83% dari total hak suara.
Setelah melepas total saham kepada kedua direksi tersebut, kepemilikan Fajar Sejahtera berkurang menjadi 1.509.563.417 saham. Persentase hak suara yang dikuasai pemegang saham pengendali ini kini turun menjadi 53,13%.
Di luar pihak pengendali dan direksi, komposisi pemegang saham KETR lainnya terdiri dari PT Gema Lintas Benua sebesar 9,64% dan PT Ascendia Capital Indonesia sebesar 5,09%. Sisa porsi saham lainnya dipegang oleh publik.
Harga pembelian sebesar Rp200 per saham dinilai sangat rendah dibandingkan dengan harga pasar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Sebagai perbandingan, pada perdagangan Senin (21/9/2026), harga saham KETR ditutup pada level Rp975 per saham.
Harga transaksi yang dilakukan para direksi tersebut hanya setara dengan 20,5% dari harga pasar saat ini. Dengan kata lain, terdapat selisih harga atau diskon sebesar 79,5% dari harga perdagangan di bursa.
Meskipun saham KETR tercatat mengalami penurunan harga sebesar 14,22% sepanjang tahun 2026, selisih harga perolehan yang sangat lebar memberikan keuntungan instan bagi para direksi. Lonjakan capital gain yang belum terealisasi sebesar 367,5% tersebut menjadi sorotan utama dalam aksi korporasi ini.
Transaksi ini mencerminkan dinamika kepemilikan internal di tengah fluktuasi harga saham KETR di pasar modal. Hingga saat ini, pihak manajemen perusahaan belum memberikan keterangan lebih lanjut mengenai alasan penetapan harga diskon tersebut.





