Bursa Saham

Saham AI dan Harga Minyak Dorong Wall Street Cetak Rekor Baru

30
×

Saham AI dan Harga Minyak Dorong Wall Street Cetak Rekor Baru

Sebarkan artikel ini
Layar monitor menampilkan grafik pergerakan indeks saham Wall Street yang sedang mengalami kenaikan
Wall Street mencetak rekor baru didorong oleh lonjakan saham sektor teknologi berbasis AI.

NEW YORK – Bursa saham Amerika Serikat mencatatkan reli signifikan pada perdagangan Senin (21/9), didorong oleh lonjakan saham sektor teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI) serta penurunan harga minyak mentah dunia.

Indeks Nasdaq Composite memimpin penguatan dengan kenaikan 2,26% ke level 27.122,09, sekaligus mencetak rekor penutupan baru untuk pertama kalinya sejak Juni. S&P 500 turut menguat 1,49% ke posisi 7.764,70, sementara Dow Jones Industrial Average naik 366,19 poin atau 0,71% menjadi 52.048,83.

Sektor teknologi menjadi motor utama penggerak pasar setelah saham Intel melonjak 12%. Advanced Micro Devices (AMD) juga mencatatkan kenaikan 10% hingga membawa kapitalisasi pasarnya menembus angka US$1 triliun.

Selain itu, saham Qualcomm mencatatkan penguatan lebih dari 9%. Kenaikan ini menjadi pemulihan penting bagi Wall Street setelah mayoritas indeks sempat tertekan pada perdagangan pekan sebelumnya.

Sentimen investor juga membaik seiring meredanya kekhawatiran di pasar energi. Harga minyak mentah AS turun 4,5% menjadi US$95,78 per barel, sementara minyak Brent merosot 3,4% ke level US$100,34 per barel.

Penurunan harga minyak terjadi di tengah dinamika geopolitik Timur Tengah pasca-klaim serangan rudal dan drone oleh kelompok Houthi terhadap Arab Saudi pada Sabtu (19/9). Meski demikian, pasar merespons positif sinyal keterbukaan diplomasi antara AS dan Iran.

Presiden AS Donald Trump menyatakan potensi pertemuan dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian dalam agenda Sidang Umum PBB pekan ini. Langkah ini memberikan sentimen positif bagi pelaku pasar yang sebelumnya khawatir akan eskalasi konflik.

Di pasar obligasi, imbal hasil Treasury tenor 10 tahun turun lebih dari 4 basis poin menjadi 4,951%. Imbal hasil tenor 30 tahun juga terkoreksi ke level 5,284%, memberikan napas lega bagi aset berisiko.

Kendati pasar menguat, tekanan inflasi tetap menjadi tantangan utama bagi Federal Reserve. Presiden Yardeni Research, Ed Yardeni, mengingatkan bahwa harga energi yang tinggi dalam jangka panjang dapat memicu pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut.

Yardeni menyoroti risiko gangguan pasokan minyak akibat konflik Timur Tengah serta serangan Ukraina terhadap kilang minyak Rusia. Efek inflasi putaran kedua dinilai menjadi ancaman nyata jika guncangan energi terus berlanjut.

Perhatian investor kini tertuju pada pertemuan tingkat tinggi antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Cina Xi Jinping yang dijadwalkan berlangsung pekan ini. Kedua pemimpin negara tersebut direncanakan membahas isu ekonomi krusial, termasuk AI, tarif, dan mineral kritis.

Kepala Ekonom LPL Financial, Jeffrey Roach, menyatakan bahwa stabilitas pasar minyak menjadi kunci bagi kebijakan The Fed ke depan. Kondisi ini juga menjadi perhatian utama pemerintah Cina dalam menjaga stabilitas fiskal mereka di tengah ketidakpastian global.