JAKARTA – PT Cisadane Sawit Raya Tbk (CSRA) menegaskan bahwa peningkatan signifikan penerimaan bea keluar Indonesia dari sektor minyak kelapa sawit mentah (CPO) per September 2026 tidak memberikan dampak langsung terhadap operasional perusahaan. Perseroan menyatakan tidak terlibat dalam kegiatan ekspor produk CPO ke pasar luar negeri.
Hingga Rabu (7/10/2026), manajemen CSRA memastikan seluruh produksi perusahaan terserap sepenuhnya melalui pasar domestik. Strategi ini dijalankan melalui kemitraan dengan sejumlah rekanan lokal di dalam negeri.
Pihak perusahaan menyatakan tidak memiliki rencana untuk mengubah orientasi bisnis ke arah ekspor dalam waktu dekat. Fokus utama CSRA saat ini tetap pada pemenuhan kebutuhan pasar domestik yang dinilai masih sangat potensial.
Data Kementerian Keuangan menunjukkan penerimaan kepabeanan dan cukai nasional mencapai Rp 240,28 triliun per akhir September 2026. Angka tersebut setara dengan 71,51% dari total target yang ditetapkan dalam APBN 2026.
Kontribusi komoditas CPO tercatat cukup besar terhadap penerimaan bea keluar sepanjang Agustus 2026. Peningkatan ini didorong oleh tren kenaikan harga komoditas global serta tingginya volume ekspor nasional secara keseluruhan.
Terkait proyeksi kinerja di masa depan, CSRA berencana membahas target produksi dan penjualan untuk tahun 2027 pada November mendatang. Perseroan berkomitmen untuk tetap menggunakan pendekatan yang terukur dan konservatif dalam menetapkan target tahunan.
Katalis utama pertumbuhan perusahaan pada 2027 akan berfokus pada optimalisasi tiga pabrik kelapa sawit yang dimiliki. Strategi ini dijalankan melalui pembelian buah kelapa sawit dari pihak luar yang memenuhi standar ketat perusahaan.
Upaya tersebut dilakukan untuk mendorong peningkatan volume produksi secara berkelanjutan. Langkah ini diharapkan mampu menjaga stabilitas kinerja operasional di tengah dinamika harga komoditas global.
Berdasarkan laporan keuangan semester I-2026, CSRA mencatatkan pendapatan sebesar Rp 1,23 triliun. Angka ini mencerminkan pertumbuhan sebesar 65,1% secara tahunan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 745 miliar.
Namun, laba bersih perseroan tercatat mengalami penurunan sebesar 7,4% menjadi Rp 131,6 miliar. Pada semester I-2025, laba bersih perusahaan mencapai Rp 142,1 miliar.
Realisasi pendapatan per semester I-2026 telah mencapai 61,5% dari target penjualan tahunan yang dipatok sebesar Rp 2 triliun. Sementara itu, capaian laba bersih baru memenuhi 43,9% dari target tahunan yang ditetapkan sebesar Rp 300 miliar.





