Bursa Saham

Rupiah Menguat ke Rp 17.866, IHSG Berisiko Tertekan Bursa Asia

38
×

Rupiah Menguat ke Rp 17.866, IHSG Berisiko Tertekan Bursa Asia

Sebarkan artikel ini
Tampilan layar monitor yang menunjukkan grafik pergerakan nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar AS
Nilai tukar rupiah dibuka menguat ke level Rp 17.866 per dolar AS pada perdagangan Rabu, 7 Oktober 2026.

JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka menguat 33 poin atau 0,18 persen menjadi Rp 17.866 per dolar AS pada perdagangan Rabu (7/10/2026). Posisi ini mengalami kenaikan dibandingkan penutupan sebelumnya yang berada di level Rp 17.899 per dolar AS.

Analis Doo Financial, Lukman Leong, menyatakan penguatan ini dipicu oleh sikap investor yang cenderung menanti rilis data cadangan devisa (cadev) Indonesia dan risalah pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC). Pasar saat ini menantikan petunjuk kebijakan suku bunga dari bank sentral AS tersebut.

Berdasarkan data CME FedWatch, pelaku pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober sebesar 24 persen. Angka tersebut menunjukkan penurunan signifikan dibandingkan proyeksi 71 persen pada pekan sebelumnya.

Di sisi lain, indeks dolar AS terpantau mengalami koreksi akibat adanya rebound pada mata uang euro. Rupiah diprediksi akan bergerak dalam rentang Rp 17.850 hingga Rp 17.950 per dolar AS sepanjang hari ini.

Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia menunjukkan pergerakan variatif dengan potensi tekanan. Pada pukul 10.20 WIB, IHSG terkoreksi 21,64 poin atau 0,35 persen ke posisi 6.171,29.

Pelemahan IHSG tersebut selaras dengan tren negatif yang terjadi di bursa saham kawasan Asia. Indeks Nikkei melemah 0,62 persen, Hang Seng turun 0,84 persen, dan Kospi terkoreksi 1,01 persen.

Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, menilai potensi penguatan IHSG sebenarnya masih terbuka. Pasar sedang menguji level resistance di kisaran 6.230 hingga 6.280.

Sentimen positif global dipengaruhi oleh stabilitas harga minyak dunia di level 100 dolar AS per barel serta antusiasme investor terhadap sektor kecerdasan buatan (AI). Kinerja laba perusahaan yang solid juga membantu menahan tekanan akibat gejolak pasar obligasi AS.

Dari sektor domestik, investor mencermati data cadangan devisa September 2026 yang dijadwalkan rilis hari ini. Sebelumnya, cadangan devisa tercatat sebesar 146,5 miliar dolar AS pada akhir Agustus 2026.

Penerimaan negara dari sektor kepabeanan dan cukai juga menunjukkan pertumbuhan positif. Hingga akhir September 2026, penerimaan tercatat Rp 240,28 triliun atau naik 8,57 persen secara tahunan (yoy).

Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap stabil di angka 5,2 persen untuk tahun 2026 dan 2027. Pertumbuhan ini didukung oleh pelaksanaan program prioritas pemerintah serta investasi negara.

Bursa global sebelumnya mencatatkan kinerja positif pada penutupan Selasa (6/10/2026). Indeks utama Wall Street kompak menguat, diikuti oleh bursa Eropa yang juga ditutup di zona hijau.