JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto resmi melantik Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan dalam Kabinet Merah Putih pada Senin (14/9/2026). Suahasil menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa untuk mengemban sisa masa jabatan periode 2024-2029.
Pergantian kepemimpinan di kursi bendahara negara ini awalnya direspons positif oleh pasar dengan harapan adanya kepastian kebijakan fiskal. Namun, optimisme tersebut belum mampu mengangkat performa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) secara signifikan.
Pada perdagangan hari ini, IHSG justru ditutup melemah 0,10% ke level 6.534. Investor asing terpantau masih melakukan aksi jual bersih atau net sell dengan nilai mencapai Rp330 miliar.
Analis menilai, respons pasar saat ini lebih mencerminkan relief rally atau sekadar pemulihan dari ketidakpastian sosok menteri. Pasar menyambut pergantian figur tersebut, namun belum sepenuhnya menunjukkan kepercayaan terhadap arah kebijakan fiskal ke depan.
Pengamat pasar modal, Hendra Wardana, menilai Suahasil memiliki modal kuat karena rekam jejaknya sebagai Wakil Menteri Keuangan. Pengalaman tersebut membuatnya memahami struktur APBN, kebutuhan pembiayaan, hingga sensitivitas pasar.
Meski demikian, pasar kini menuntut pembuktian lebih dari sekadar pengalaman. Investor ingin melihat kemampuan kepemimpinan baru dalam mengembalikan kredibilitas serta prediktabilitas kebijakan fiskal di tengah tantangan ekonomi nasional.
Ujian utama bagi Suahasil mencakup pengelolaan defisit APBN, stabilitas rupiah, hingga koordinasi kebijakan fiskal dengan moneter. Komunikasi kebijakan yang jelas dan konsisten dinilai menjadi kunci agar investor bersedia memberikan risk premium yang lebih rendah bagi Indonesia.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menambahkan bahwa pergantian menteri adalah katalis domestik yang diharapkan mampu menyeimbangkan tekanan eksternal. Namun, respons pasar saat ini dinilai masih positif-terukur dan belum menunjukkan euforia berlebih.
Di sisi lain, tekanan global masih membebani pasar saham dalam negeri. Konflik di Timur Tengah kembali memicu kenaikan harga minyak Brent hingga menembus US$107 per barel.
Lonjakan harga minyak tersebut memicu kekhawatiran terhadap inflasi global yang lebih persisten. Kondisi ini berpotensi membuat suku bunga acuan tetap berada di level tinggi dalam waktu yang lebih lama atau higher for longer.
Sentimen tersebut memicu aksi wait and see investor global terhadap aset berisiko di pasar negara berkembang. Rupiah yang berada di kisaran Rp17.669 per dolar AS pun turut menjadi perhatian pelaku pasar.
Secara teknikal, level 6.500 menjadi area psikologis krusial bagi IHSG. Jika level ini mampu dipertahankan, peluang rebound ke kisaran 6.600 hingga 6.700 masih terbuka lebar.
Namun, jika IHSG justru terperosok di bawah level 6.500, indeks berisiko memasuki fase konsolidasi yang lebih dalam. Investor disarankan untuk tetap berhati-hati dan lebih memilih bukti kebijakan nyata daripada sekadar sentimen pergantian figur.
Sektor perbankan saat ini dinilai masih menjadi pilihan utama karena dinilai paling cepat merespons perubahan ekspektasi ekonomi domestik. Beberapa saham yang direkomendasikan untuk trading buy meliputi BBRI dengan target harga Rp3.600 dan BMRI dengan target harga Rp4.730.






