Bursa Saham

Strategi Emiten Ekspansi ke Luar Bisnis Inti dan Prospeknya

55
×

Strategi Emiten Ekspansi ke Luar Bisnis Inti dan Prospeknya

Sebarkan artikel ini
Gedung Bursa Efek Indonesia di Jakarta dengan latar belakang aktivitas perdagangan saham
Sejumlah emiten di Bursa Efek Indonesia kini gencar melakukan diversifikasi bisnis untuk mencari sumber pendapatan baru.

JAKARTA – Sejumlah emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) kian gencar melakukan diversifikasi bisnis di luar sektor inti mereka sepanjang tahun 2026. Strategi ini diambil untuk membuka sumber pendapatan baru sekaligus menekan ketergantungan perusahaan terhadap satu segmen usaha tertentu.

PT Satu Visi Putra Tbk (VISI) menjadi salah satu emiten yang tengah membidik sektor kesehatan. Perusahaan ini berencana mengakuisisi 72,91% saham PT Hasna Medika Bakti Cirebon melalui mekanisme private placement.

Langkah ekspansi serupa juga diambil oleh PT Oxala Energy International Tbk (PIPA). Emiten ini telah mengumumkan rencana akuisisi 75% saham PT Aztech Pandu Persada untuk memperkuat posisi di bidang pertambangan minyak dan gas, serta jasa perdagangan.

Di sektor petrokimia, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) melakukan langkah strategis dengan mengakuisisi bisnis otomotif Cycle & Carriage di Singapura dan Malaysia. Transaksi tersebut diperkirakan menelan biaya hingga US$ 207 juta.

PT Sumber Global Energy Tbk (SGER) kini bersiap mengoperasikan pabrik Hidrogen Peroksida (H2O2) di Merak, Banten. Pabrik yang dikelola anak usahanya, PT Hidrogen Peroxida Indonesia (HPI), ini diproyeksikan menjadi fasilitas terbesar kedua di Indonesia dengan kapasitas 40.000 metrik ton per tahun.

Sementara itu, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mempercepat diversifikasi ke sektor non-batubara melalui akuisisi 100% saham perusahaan tambang Australia, Loyal Metals Ltd. Nilai akuisisi tersebut mencapai Rp 1 triliun guna memperkuat portofolio mineral seperti tembaga dan emas.

Analis Panin Sekuritas, Elandry Pratama, menilai ekspansi di luar bisnis inti dapat menjadi katalis positif bagi emiten. Namun, keberhasilan langkah tersebut sangat bergantung pada efektivitas integrasi aset baru dan kontribusinya terhadap arus kas perusahaan.

Elandry menyoroti BUMI dan SGER sebagai emiten yang memiliki rencana diversifikasi cukup terukur karena masih berkaitan dengan ekosistem bisnis sebelumnya. Sebaliknya, ia menilai langkah VISI dan PIPA masih bersifat spekulatif hingga ada kepastian eksekusi dan kontribusi laba yang nyata.

Terkait TPIA, investor diimbau untuk mencermati efektivitas integrasi mobility platform regional yang baru diakuisisi tersebut. Transformasi bisnis yang agresif menuntut manajemen untuk menjaga efisiensi agar tidak membebani return on capital.

Analis Mega Capital Sekuritas, Revo Gilang Firdaus, menambahkan bahwa diversifikasi BUMI merupakan langkah jangka panjang untuk mencapai target pendapatan 50% dari sektor non-batubara pada 2031. Investor diminta mewaspadai fluktuasi harga komoditas tembaga dan emas yang berpotensi memengaruhi pendapatan perusahaan.

Secara teknikal, investor disarankan untuk tidak sekadar mengejar harga saham yang sedang naik (rally). Fokus utama harus diberikan pada sinergi bisnis baru, sumber pendanaan, serta rekam jejak manajemen dalam mengelola aset.

Pilihan strategi buy on weakness dinilai lebih ideal untuk saham-saham dengan fundamental yang sedang bertransformasi. Sementara untuk emiten yang baru memulai ekspansi, sikap wait and see tetap menjadi rekomendasi utama bagi pelaku pasar.