Bursa Saham

IHSG Berpotensi Rebound Terbatas, Investor Simak Kebijakan Suku Bunga The Fed

58
×

IHSG Berpotensi Rebound Terbatas, Investor Simak Kebijakan Suku Bunga The Fed

Sebarkan artikel ini
Tampilan layar monitor yang menunjukkan grafik pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia.
IHSG diproyeksikan mengalami rebound terbatas di tengah penantian investor terhadap kebijakan suku bunga The Fed.

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan akan mengalami rebound terbatas pada perdagangan Senin (14/9/2026). Sentimen pasar saat ini masih didominasi oleh antisipasi investor terhadap arah kebijakan suku bunga global.

Fokus utama pelaku pasar tertuju pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) yang dijadwalkan berlangsung pada 15-16 September 2026. Keputusan bank sentral Amerika Serikat tersebut menjadi penentu arah pergerakan pasar saham domestik dalam jangka pendek.

Sebelumnya, IHSG menutup perdagangan akhir pekan lalu, Jumat (11/9), dengan pelemahan 0,73% ke level 6.541,38. Secara akumulatif, indeks telah terkoreksi sebesar 1,43% sepanjang pekan lalu.

Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menyatakan bahwa IHSG memiliki peluang untuk menguat meski gerakannya cenderung terbatas. Investor saat ini tengah mencermati dinamika kenaikan harga energi serta perkembangan data ekonomi Amerika Serikat yang memengaruhi sentimen global.

Secara teknikal, Herditya memproyeksikan IHSG akan bergerak dengan level support di posisi 6.440. Sementara itu, level resistance diperkirakan berada pada kisaran 6.623.

Pandangan senada disampaikan oleh Founder WH-Project, William Hartanto. Ia menilai potensi technical rebound pada sejumlah saham sektor tambang dan energi akan menjadi sentimen dominan bagi pergerakan indeks.

William memprediksi IHSG akan bergerak dengan support di level 6.500 dan resistance di 6.642. Sektor energi dinilai masih menjadi fokus menarik untuk dicermati oleh para pelaku pasar di tengah fluktuasi harga komoditas.

Sementara itu, Head of Research Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang, memproyeksikan rentang pergerakan IHSG berada di kisaran 6.450 hingga 6.700. Analisis teknikal menunjukkan IHSG masih bertahan di atas Moving Average 20 (MA20).

Meski demikian, Alrich memperingatkan adanya indikator Stochastic RSI yang telah membentuk death cross di area overbought. Kondisi ini mengindikasikan ruang penguatan IHSG cukup terbatas sehingga risiko koreksi tetap harus diwaspadai oleh investor.

Selain kebijakan The Fed, investor juga memantau sejumlah faktor eksternal lainnya. Beberapa variabel yang menjadi perhatian meliputi inflasi di Amerika Serikat serta kenaikan yield obligasi pemerintah AS.

Perkembangan geopolitik yang memengaruhi harga minyak dunia juga menjadi catatan penting bagi pelaku pasar. Faktor-faktor tersebut diyakini akan memberikan tekanan tambahan pada volatilitas pasar saham dalam sepekan ke depan.

Secara keseluruhan, pasar saham Indonesia diperkirakan masih akan bergerak volatil. Investor disarankan tetap memperhatikan level teknikal yang telah dipetakan oleh para analis guna menentukan strategi masuk atau keluar pasar yang tepat.