JAKARTA – Prospek kinerja PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) dan anak usahanya, PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU), diproyeksikan tetap positif hingga tahun 2027. Pertumbuhan kedua emiten energi ini ditopang oleh berbagai proyek strategis dan rencana ekspansi bisnis yang akan diimplementasikan secara bertahap.
Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Kevin Yudha Pratama, menyatakan bahwa kinerja RAJA hingga akhir 2026 akan ditopang oleh bisnis eksisting. Fokus utama mencakup operasional kompresor gas Sengkang, investasi di Cepu, serta kontribusi dari Grup Hafar.
Memasuki tahun 2027, potensi pertumbuhan RAJA dinilai semakin terbuka melalui proyek floating LNG dan rencana akuisisi perusahaan pelayaran. Selain itu, pembangunan pipa bahan bakar minyak (BBM) di Kalimantan Timur yang dimulai sejak kuartal III 2026 diharapkan menjadi motor penggerak baru.
Namun, realisasi kontribusi proyek-proyek tersebut sangat bergantung pada progres operasional dan kemampuan perseroan menjaga profitabilitas. Saat ini, RAJA telah menggenggam 5% saham di proyek floating LNG, sementara proses akuisisi perusahaan pelayaran masih dalam tahap finalisasi.
Investor disarankan untuk tetap mencermati risiko pasar, termasuk volatilitas harga minyak dan gas dunia. Selain itu, kebutuhan pendanaan yang besar untuk ekspansi dapat meningkatkan beban utang, yang menuntut efisiensi arus kas yang lebih ketat.
Secara teknikal, saham RAJA saat ini berada dalam posisi wait and see. Peluang koreksi teknikal diperkirakan menuju area support di kisaran Rp785 hingga Rp800 per saham.
Di sisi lain, PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU) mencatatkan prospek yang cukup stabil setelah akuisisi di Madura Strait. Aset tersebut telah memperbesar basis aset perusahaan dan memberikan kontribusi nyata melalui bagian laba entitas asosiasi.
Memasuki 2027, Blok Kasuri diproyeksikan menjadi katalis tambahan bagi RATU jika proses pengalihan participating interest berjalan sesuai rencana. Pertumbuhan laba RATU diprediksi akan lebih moderat dibandingkan periode semester I 2026 yang sempat terdongkrak keuntungan satu kali (one-off gain).
Manajemen RATU juga memiliki ruang pendanaan melalui aksi private placement untuk mendukung modal kerja. Meski demikian, aksi korporasi tersebut membawa risiko dilusi bagi pemegang saham jika tidak dibarengi dengan peningkatan imbal hasil aset yang produktif.
Kinerja RATU ke depan juga sangat bergantung pada kemampuan mitra operator dalam menjalankan produksi aset migas. Risiko keterlambatan proyek, perizinan, serta kenaikan beban bunga tetap menjadi variabel yang harus diwaspadai investor.
Untuk saham RATU, potensi koreksi teknikal diprediksi menguji level support di Rp4.450. Jika mampu bertahan di level tersebut, saham ini berpeluang melakukan rebound dengan target jangka pendek di rentang Rp4.860 hingga Rp5.000 per saham.




