Perbankan

Strategi BTN: Terbitkan Obligasi Rp 2 Triliun dan Luncurkan Tabungan Emas

29
×

Strategi BTN: Terbitkan Obligasi Rp 2 Triliun dan Luncurkan Tabungan Emas

Sebarkan artikel ini
Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu memberikan keterangan terkait strategi pendanaan perusahaan.
Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu memaparkan strategi penguatan pendanaan melalui penerbitan obligasi dan inovasi produk tabungan.

JAKARTA – PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) tengah mematangkan strategi penguatan struktur pendanaan melalui rencana penerbitan obligasi senilai Rp2 triliun pada September 2026. Langkah ini dilakukan sebagai upaya perseroan dalam menjaga likuiditas dan mendukung kebutuhan pembiayaan dalam mata uang rupiah.

Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu, menyatakan bahwa penerbitan surat utang tersebut merupakan langkah taktis untuk menghindari risiko nilai tukar. Perseroan memilih fokus pada pasar domestik guna memenuhi kebutuhan pendanaan operasional perusahaan.

Nixon menegaskan bahwa keputusan untuk tidak menerbitkan global bonds didasarkan pada fluktuasi nilai tukar rupiah yang terjadi saat ini. Perseroan menilai pendanaan domestik lebih relevan dengan struktur portofolio kredit yang mayoritas disalurkan dalam mata uang lokal.

Selain aksi korporasi di pasar modal, BTN juga melakukan ekspansi ke layanan keuangan digital berbasis komoditas. Perseroan sedang menyiapkan fitur tabungan emas digital yang akan diintegrasikan ke dalam aplikasi mobile banking Bale by BTN.

Layanan tabungan emas ini saat ini masih dalam tahap pengurusan izin operasional di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia. Perseroan menargetkan seluruh infrastruktur dan aspek keamanan sistem dapat memenuhi regulasi sehingga layanan bisa diluncurkan sebelum akhir 2026.

Pada tahap awal pengoperasiannya, fitur ini akan difokuskan pada layanan cicil emas bagi nasabah. Pengembangan fitur lainnya akan dilakukan secara bertahap setelah layanan utama mendapatkan izin resmi dan beroperasi secara stabil.

Langkah strategis ini diambil menyusul kinerja positif perseroan sepanjang semester pertama tahun 2026. BTN mencatatkan laba bersih konsolidasi sebesar Rp2,4 triliun hingga Juni 2026.

Capaian tersebut mencerminkan lonjakan laba sebesar 40,8% secara tahunan (year-on-year) dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp1,7 triliun. Pertumbuhan laba didorong oleh peningkatan penyaluran kredit yang mencapai Rp418,11 triliun.

Segmen kredit nonperumahan menjadi motor penggerak utama dengan pertumbuhan signifikan mencapai 46,1% menjadi Rp85,22 triliun. Sementara itu, kredit perumahan tetap tumbuh stabil sebesar 4,8% menjadi Rp332,88 triliun.

KPR subsidi masih menjadi kontributor terbesar dalam portofolio kredit perumahan BTN dengan nilai penyaluran mencapai Rp196,96 triliun. Perseroan juga mencatat progres positif pada Kredit Program Perumahan (KPP) yang telah tersalurkan Rp4,1 triliun sejak akhir 2025.

Manajemen BTN menyatakan optimisme bahwa tren pertumbuhan ini akan terus berlanjut hingga penghujung tahun. Strategi pendanaan melalui obligasi dan diversifikasi layanan digital diharapkan mampu mempertahankan performa perseroan di tengah dinamika pasar keuangan global.

Upaya BTN masuk ke instrumen emas sejalan dengan tren pasar keuangan yang semakin beragam. Saat ini, minat terhadap aset emas di Indonesia terus meningkat, didukung oleh berbagai inovasi instrumen investasi seperti ETF emas syariah yang telah diluncurkan di Bursa Efek Indonesia.