Perbankan

Penyebab Margin Bunga Bersih Bank Jumbo Menyusut Sepanjang 2026

37
×

Penyebab Margin Bunga Bersih Bank Jumbo Menyusut Sepanjang 2026

Sebarkan artikel ini
Gedung kantor pusat Bank Mandiri di Jakarta dengan latar belakang area perkantoran
Sejumlah bank besar di Indonesia mengalami tekanan margin bunga bersih sepanjang tahun 2026.

Jakarta – Margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) sejumlah bank jumbo di Indonesia mengalami tekanan sepanjang 2026. Kondisi ini dipicu oleh kenaikan suku bunga kredit serta simpanan yang tidak sejalan di tengah pengetatan likuiditas.

PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) mencatat penurunan NIM secara individu dari 4,46% pada kuartal pertama menjadi 4,34% pada kuartal kedua 2026. Penyusutan sebesar 12 basis poin (bps) ini mencerminkan tantangan efisiensi bunga yang dihadapi perbankan besar.

PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) juga mengalami tren serupa dengan penurunan NIM sebesar 1 bps secara kuartalan. NIM bank swasta tersebut bergerak dari 5,33% pada kuartal pertama menjadi 5,32% pada kuartal kedua 2026.

Di sisi lain, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) mampu menjaga stabilitas NIM di angka 3,55% sepanjang dua kuartal pertama 2026. Sementara itu, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) mencatatkan NIM sebesar 6,53% pada kuartal pertama, namun belum merilis data kinerja kuartal kedua.

Tekanan NIM terlihat lebih signifikan jika dibandingkan secara tahunan (year-on-year). Pada Juni 2026, NIM BMRI turun 27 bps, BBNI terkoreksi 28 bps, dan BBCA menyusut hingga 46 bps dibandingkan posisi Juni 2025.

Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta Utama, menilai fenomena ini sebagai dampak dari tekanan spread dan biaya dana (cost of fund). Suku bunga kredit cenderung lebih cepat turun saat pelonggaran kebijakan, sementara biaya deposito meningkat tajam saat likuiditas mengetat.

Data Bank Indonesia menunjukkan rata-rata tertimbang suku bunga kredit naik menjadi 8,79% pada Juni 2026 dari 8,70% di bulan sebelumnya. Secara bersamaan, bunga deposito tenor satu bulan melonjak dari 4,28% menjadi 4,77% pada periode yang sama.

Penyempitan spread antara bunga kredit dan deposito tenor satu bulan mencapai 40 bps dalam kurun waktu satu bulan. Hal ini menunjukkan bank harus mengeluarkan biaya lebih tinggi untuk menjaga pendanaan di tengah penyesuaian bunga kredit yang lambat.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat NIM industri perbankan secara keseluruhan turun menjadi 4,34% pada Juni 2026. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan posisi Maret 2026 yang berada di level 4,38%.

Meski NIM tertekan, profitabilitas bank besar diprediksi tetap terjaga melalui pertumbuhan kredit dan komposisi dana murah. Hingga Mei 2026, laba empat bank besar terpantau masih tumbuh sekitar 9% dengan kenaikan pendapatan bunga bersih sebesar 7,8%.

Tekanan margin ini terjadi seiring kebijakan Bank Indonesia yang menaikkan BI-Rate secara bertahap hingga mencapai 5,75% pada Juni 2026. Suku bunga acuan tersebut kemudian dipertahankan pada Juli dan Agustus 2026.

Nafan menyebut tekanan NIM bersifat siklus dan berpotensi menuju fase stabilisasi ke depan. Investor dinilai dapat melirik saham perbankan besar yang valuasinya telah terkoreksi untuk akumulasi jangka panjang.