Bursa Saham

Prospek Saham Empat Emiten MIND ID yang Gencar Ekspansi

33
×

Prospek Saham Empat Emiten MIND ID yang Gencar Ekspansi

Sebarkan artikel ini
Logo dan area operasional pertambangan milik emiten di bawah naungan MIND ID
Empat emiten di bawah naungan MIND ID tengah menggenjot belanja modal untuk memacu ekspansi bisnis.

JAKARTA – Empat emiten di bawah naungan Holding Industri Pertambangan Indonesia (MIND ID) tengah menggenjot belanja modal (capex) untuk memacu ekspansi bisnis di tengah tekanan tuntutan pembagian dividen. PT Vale Indonesia Tbk (INCO), PT Timah Tbk (TINS), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) saat ini memprioritaskan penyelesaian proyek strategis untuk menjaga pertumbuhan jangka panjang.

PT Vale Indonesia Tbk menjadi salah satu yang paling agresif dengan menyiapkan belanja modal hingga US$ 1,1 miliar pada 2027. Anggaran tersebut dialokasikan untuk membiayai puncak kebutuhan investasi dalam program Indonesia Growth Project (IGP) di Morowali, Pomalaa, dan Sorowako.

Direktur Vale Indonesia, Rizky Andhika Putra, menjelaskan bahwa dana besar tersebut difokuskan pada pembangunan smelter berbasis High-Pressure Acid Leach (HPAL). Fasilitas ini krusial untuk memproduksi mixed hydroxide precipitate (MHP) sebagai bahan baku baterai kendaraan listrik.

Untuk tahun 2026, perseroan mengestimasikan kebutuhan capex mencapai hampir US$ 700 juta. Dana tersebut digunakan untuk pengembangan tambang serta mempertahankan operasional perusahaan agar tetap stabil.

Terkait kebijakan dividen, manajemen menyatakan bahwa distribusi akan diprioritaskan dalam bentuk tunai. Namun, besaran dividen tahun buku 2026 masih akan bergantung pada efisiensi belanja modal dan kinerja harga komoditas nikel di pasar global.

Di sisi lain, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) mengalokasikan capex sekitar Rp 6 triliun sepanjang 2026. Fokus utama investasi Antam diarahkan pada pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik dan penguatan lini bisnis emas.

Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Antam, Arini Kasmira, menegaskan bahwa setiap investasi dilakukan melalui evaluasi ketat terhadap arus kas dan penciptaan nilai. Perusahaan kini tengah membangun fasilitas manufaktur logam mulia di Gresik dengan kapasitas 30 ton emas per tahun.

Sementara itu, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) mengambil strategi berbeda dengan mendiversifikasi pendapatan ke sektor non-batubara. Perusahaan menargetkan kontribusi bisnis hilirisasi dan energi terbarukan mencapai 20% dari total pendapatan dalam tiga hingga empat tahun ke depan.

Proyek hilirisasi yang tengah digarap PTBA meliputi pengembangan coal to dimethyl ether (DME), metanol, hingga artificial graphite. Langkah ini diambil sebagai upaya mitigasi terhadap fluktuasi harga batubara global.

Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama, menilai ANTM sebagai pilihan utama investor karena diversifikasi yang kuat antara bisnis emas dan nikel. Harga emas yang tinggi saat ini dinilai mampu menjadi bantalan kinerja keuangan perusahaan.

Elandry menempatkan TINS sebagai pilihan kedua dengan mempertimbangkan prospek permintaan timah dari industri semikonduktor. Sementara itu, INCO dinilai cocok untuk investor dengan cakrawala investasi jangka menengah hingga panjang.

Untuk PTBA, analis tersebut menyarankan investor untuk tetap mencermati saham ini sebagai instrumen pengejar dividen. Meski potensi pertumbuhan strukturalnya terbatas dibanding sektor logam, PTBA tetap menawarkan stabilitas arus kas yang menarik bagi para pemegang saham.