Bursa Saham

Prospek IHSG di Kuartal IV 2026: Begini Prediksi Pergerakannya

31
×

Prospek IHSG di Kuartal IV 2026: Begini Prediksi Pergerakannya

Sebarkan artikel ini
Grafik pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di layar monitor bursa efek
IHSG diprediksi mengalami pemulihan moderat pada kuartal IV 2026 di tengah tantangan ekonomi global dan domestik.

JAKARTA – Kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi akan mengalami pemulihan moderat pada kuartal IV 2026. Meski secara historis pasar cenderung menguat di akhir tahun, tantangan ekonomi global dan domestik diperkirakan akan membatasi laju kenaikan indeks.

Hingga penutupan perdagangan Jumat (2/10), IHSG parkir di level 6.036,88. Angka tersebut mencerminkan koreksi sebesar 30,18 persen sejak awal tahun atau year to date (YTD).

Head of Research PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menyatakan bahwa performa pasar sepanjang kuartal III 2026 sangat tidak merata. Setelah sempat mencatatkan reli pada Juli hingga Agustus, IHSG justru tertekan cukup dalam sebesar 6,6 persen pada September lalu.

Tekanan pasar ini dipicu oleh kombinasi faktor eksternal yang signifikan. Kebijakan kenaikan suku bunga oleh The Fed serta tingginya yield surat utang Amerika Serikat memicu penguatan dolar AS.

Kondisi tersebut turut diperparah oleh fluktuasi harga minyak dunia dan ketidakpastian geopolitik global. Faktor-faktor ini secara langsung menekan nilai tukar rupiah dan menurunkan minat investor asing terhadap aset di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Secara domestik, fundamental ekonomi Indonesia dinilai masih cukup resilien. Namun, pasar tetap menghadapi tantangan berupa perubahan kebijakan, kondisi likuiditas yang ketat, serta penyesuaian market microstructure.

Likuiditas domestik saat ini berfungsi sebagai penyangga pasar, namun belum cukup kuat untuk menggantikan peran modal asing pada saham-saham berkapitalisasi besar (large cap). Tercatat, aliran dana asing telah keluar dari bursa sebesar Rp 107,43 triliun secara YTD di pasar reguler.

Melihat kondisi tersebut, investor disarankan untuk tidak berekspektasi berlebihan terhadap fenomena window dressing akhir tahun. Strategi investasi sebaiknya lebih difokuskan pada seleksi saham yang memiliki fundamental kuat dan valuasi menarik.

Proyeksi rentang pergerakan IHSG pada akhir tahun 2026 diperkirakan berada di kisaran 5.900 hingga 6.900. Pemulihan pasar di sisa tahun ini diprediksi tidak akan berbentuk reli luas, melainkan penguatan yang sangat selektif.

Sektor perbankan tetap menjadi perhatian utama, terutama emiten yang memiliki funding franchise dan posisi likuiditas yang solid. Perbankan dengan kondisi keuangan yang tangguh dinilai lebih mampu menghadapi tekanan sistem pendanaan yang ketat.

Di sisi lain, investor perlu bersikap lebih hati-hati terhadap emiten perbankan yang memiliki posisi likuiditas lebih rentan. Kerugian kurs akibat pelemahan rupiah juga menjadi pertimbangan bagi investor asing untuk tetap mengambil posisi defensif.

Para pelaku pasar diharapkan tetap memprioritaskan perusahaan dengan neraca keuangan yang kuat serta arus kas yang sehat. Visibilitas laba yang tinggi menjadi syarat mutlak dalam memilih saham di tengah ketidakpastian pasar saat ini.