Bursa Saham

IHSG Berpotensi Menguat Terbatas, Simak Saham Pilihan Analis Hari Ini

87
×

IHSG Berpotensi Menguat Terbatas, Simak Saham Pilihan Analis Hari Ini

Sebarkan artikel ini
Grafik pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di layar monitor bursa efek
IHSG diproyeksikan melanjutkan penguatan terbatas pada perdagangan awal pekan.

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan akan melanjutkan tren penguatan pada perdagangan awal pekan, Senin (24/8/2026). Meski demikian, para investor tetap diminta untuk waspada terhadap potensi aksi ambil untung atau profit taking setelah indeks mencatatkan kenaikan signifikan dalam sepekan terakhir.

Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, memprediksi IHSG akan bergerak dalam rentang konsolidasi di kisaran 6.480 hingga 6.580. Level 6.500 ditetapkan sebagai batas support psikologis krusial, sementara rentang 6.550 hingga 6.580 menjadi area resistance terdekat.

Jika IHSG mampu menembus level resistance 6.580 dengan dukungan volume transaksi yang meningkat serta aliran dana asing (foreign net buy) yang konsisten, indeks berpeluang melanjutkan penguatan menuju target 6.650. Sebaliknya, kegagalan dalam mempertahankan level support 6.500 dapat memicu koreksi teknikal ke kisaran 6.450 hingga 6.480.

Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, turut mengonfirmasi potensi penguatan terbatas pada perdagangan hari ini. Pihaknya menetapkan level support pada posisi 6.482 dan resistance pada 6.628.

Terdapat tiga sentimen utama yang diperkirakan akan mempengaruhi arah pergerakan indeks hari ini. Pertama, pelaku pasar masih menanti hasil dari Jackson Hole Symposium yang menjadi acuan kebijakan moneter global.

Kedua, fluktuasi harga komoditas global, khususnya emas dan minyak mentah, yang masih berada dalam tren penguatan. Ketiga, rencana rebalancing indeks MSCI dan FTSE yang akan efektif pada September 2026 turut menjadi perhatian pelaku pasar.

Di sisi lain, Hendra menekankan pentingnya memantau konsistensi aliran dana asing. Meskipun pada Jumat (21/8) tercatat net buy sebesar Rp 992 miliar, nominal tersebut dinilai masih relatif kecil dibandingkan total net sell asing yang terakumulasi sepanjang tahun berjalan.

Sektor perbankan dipandang masih menjadi penggerak utama yang menarik untuk dicermati. Hal ini didorong oleh pertumbuhan kredit nasional yang mencapai 13% serta pertumbuhan likuiditas M2 sebesar 8,3%.

Saham BBRI direkomendasikan dengan strategi trading buy dan target harga di level Rp 3.420. Likuiditas yang tinggi serta bobot besar BBRI terhadap IHSG menjadikannya instrumen kunci jika arus dana asing terus masuk ke pasar domestik.

Selain sektor perbankan, sektor energi dan pertambangan tetap menjadi pilihan menarik di tengah tingginya harga komoditas. Saham BUMI direkomendasikan untuk trading buy dengan target Rp 230, namun investor diingatkan untuk tetap disiplin menjaga batas risiko karena volatilitasnya yang tinggi.

Untuk sektor emas, saham BRMS dapat dijadikan opsi speculative buy dengan target harga Rp 750. Sementara itu, saham SRTG juga dinilai menarik untuk speculative buy dengan target Rp 2.200 sebagai alternatif investasi di tengah fase pemulihan pasar.

Herditya menambahkan beberapa rekomendasi saham lain yang dapat dicermati oleh investor. Saham FORE ditargetkan pada level Rp 865-Rp 915, MBMA pada target Rp 605-Rp 660, dan TLKM pada rentang Rp 2.740-Rp 2.840.