JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan pekan ini di zona hijau pada Jumat (21/8), dengan penguatan 0,37% ke level 6.525,69. Meski mencatatkan kenaikan sebesar 4,72% dalam sebulan terakhir, kinerja pasar modal Indonesia secara tahun berjalan (year to date/ytd) masih terpuruk dengan koreksi mencapai 24,53%.
Data Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat, performa IHSG menjadi yang terlemah di kawasan Asia Tenggara. Indonesia menempati posisi buncit di antara enam bursa utama ASEAN yang diperbandingkan, jauh tertinggal dibandingkan Thailand yang tumbuh 28,11% dan Singapura yang menguat 22,44% ytd.
Kondisi serupa terjadi dalam cakupan Asia Pasifik, di mana IHSG berada di peringkat terakhir dari 13 indeks utama. Tekanan ini bahkan lebih dalam dibandingkan bursa Korea Selatan yang melonjak 64,04%, serta melampaui penurunan bursa India dan Cina.
Secara global, IHSG menduduki posisi ke-35 atau peringkat paling bawah dalam daftar bursa utama dunia. Kinerja negatif ini tidak hanya terjadi pada indeks utama, tetapi juga melanda indeks sektoral seperti energi, teknologi, properti, dan infrastruktur yang masing-masing terkoreksi lebih dari 25% sepanjang tahun.
Meskipun secara agregat pasar melemah, beberapa emiten tetap mencatatkan kinerja positif, seperti EMAS yang naik 42,34% dan ADRO yang menguat 40,88%. Namun, kenaikan tersebut belum mampu menahan tekanan dari saham-saham berkapitalisasi besar yang menjadi pemberat utama indeks.
Tantangan bagi pasar modal Indonesia diprediksi masih akan berlanjut hingga akhir tahun 2026. Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menyoroti sejumlah faktor makroekonomi domestik sebagai pemicu tekanan.
Faktor-faktor tersebut meliputi potensi defisit fiskal, peningkatan inflasi, dan pelemahan nilai tukar rupiah. Kondisi ini dinilai dapat membatasi ruang ekspansi perusahaan serta menekan daya beli masyarakat.
Pihak Mirae Asset Sekuritas Indonesia menetapkan target IHSG berada di level 6.800 pada akhir tahun. Proyeksi ini mengimplikasikan bahwa pasar saham domestik masih berpotensi mencatatkan penurunan sekitar 21,36% dibandingkan posisi awal tahun.
Selain itu, nilai tukar rupiah diprediksi akan berada di kisaran Rp18.000 per dolar AS. Tekanan makroekonomi ini diperkirakan akan terasa lebih signifikan pada semester II 2026 dan berisiko berlanjut hingga tahun 2027.
Ke depan, pelaku pasar mulai mengalihkan fokus dari sentimen global ke faktor domestik. Kualitas pertumbuhan ekonomi, konsistensi kebijakan pemerintah, dan efektivitas penyaluran likuiditas ke sektor produktif akan menjadi penentu utama arah pasar.
Stabilitas nilai tukar serta kredibilitas fiskal dianggap sebagai kunci untuk menjaga keseimbangan pasar. Investor disarankan tetap berhati-hati dalam mengambil keputusan di tengah ketidakpastian kondisi ekonomi yang masih berlangsung.






